Heatwave Mengancam, Kota-Kota Dunia Alami Lonjakan Hari dengan Suhu Ekstrem

ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song/wsj
A child cools off in a fountain, amid a heatwave warning in Shanghai, China July 23, 2022.
1/10/2025, 11.47 WIB

Kota-kota besar di dunia kini menghadapi hari dengan suhu ekstrem yang semakin banyak akibat perubahan iklim. Laporan terbaru menyebut jumlah hari panas ekstrem di 43 ibu kota di dunia naik 25% per tahun dibandingkan pada 1990-an.

Dilansir dari The Guardian,  riset International Institute for Environment and Development (IIED) itu menyebut rata-rata jumlah hari dengan suhu di atas 35°C tercatat mencapai 1.335 hari per tahun pada periode 2015–2024, meningkat tajam dari 1.062 hari per tahun pada periode 1994–2003. Peningkatan ini terjadi di hampir seluruh wilayah dunia.

Misalnya saja, Roma dan Beijing mengalami dua kali lipat jumlah hari di atas 35°C dibandingkan dengan dekade 1990-an. Manila mencatat kenaikan lebih tajam, dengan jumlah hari panas ekstrem meningkat tiga kali lipat.

Kota lain seperti Madrid mengalami rata-rata 47 hari dengan suhu di atas 35°C setiap tahun, naik signifikan dari 25 hari di era 1990-an. Bahkan kota beriklim relatif sejuk seperti London, mencatat dua kali lipat jumlah hari di atas 30°C dibandingkan periode sebelumnya.

Selain itu, Brasília di Brasil, yang hanya mengalami 3 hari panas di atas 35°C pada 1994–2003, kini mencatat 40 hari panas serupa dalam kurun 2015–2024. Sementara di Pretoria, Afrika Selatan, jumlah hari panas ekstrem naik dari rata-rata 3 hari pada 1990-an menjadi 11 hari setiap tahun.

Menurut IIED, peningkatan suhu ekstrem telah memperburuk risiko kesehatan masyarakat perkotaan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan warga berpenghasilan rendah. Dalam tiga dekade terakhir, panas ekstrem diperkirakan telah menyebabkan jutaan kematian dini.

“Suhu global meningkat lebih cepat daripada respons pemerintah. Gagal beradaptasi berarti jutaan warga kota akan terjebak dalam kondisi berbahaya akibat efek pulau panas perkotaan,” ujar peneliti IIED, Anna Walnycki.

Walnycki menekankan, dampak terburuk dialami masyarakat di negara berkembang, terutama yang tinggal di permukiman kumuh atau informal dengan kualitas bangunan rendah. Sekitar sepertiga penduduk kota di dunia tinggal di wilayah semacam ini, sehingga jauh lebih rentan menghadapi panas ekstrem.

Krisis iklim juga memicu rekor panas di berbagai belahan dunia. Pada Juli 2024, Jepang mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 41,2°C, dengan lebih dari 10.000 orang dilarikan ke rumah sakit. Di Eropa, 16.500 orang meninggal dunia akibat gelombang panas antara Juni hingga Agustus tahun lalu.

IIED juga menyoroti fenomena “climate whiplash”, yakni pergeseran ekstrem antara kondisi sangat kering dan sangat basah, yang melanda kota-kota besar seperti Dallas hingga Shanghai.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah