APSENDO: RI Bisa Produksi Bioetanol Tanpa Ganggu Industri Lain
Asosiasi Produsen Spiritus dan Ethanol Indonesia (APSENDO) menyebut ada free stock 1 juta ton molase yang bisa dimanfaatkan untuk memproduksi biofuel. Pada 2025, RI menghasilkan sekitar 1,9 juta ton molase atau tetes tebu. Namun, baru 900 ribu ton molase yang dimanfaatkan.
“Padahal, setiap empat kilogram tetes tebu bisa menghasilkan satu liter etanol. Artinya ada potensi 250 ribu kiloliter etanol yang belum dioptimalkan, di luar food,” kata Ketua Umum APSENDO, Izmirta Rachman, dalam diskusi ‘Bloomberg Technoz Ecoverse 2025’, Kamis (20/11).
Izmirta juga membahas kinerja ekspor molase yang cenderung rendah. Hal ini disebabkan Indonesia belum memiliki tata niaga molase. Akibatnya, muncul timbunan molase di tingkat petani dan pabrik gula.
Tantangan lainnya, pabrik pengguna molase yang masih berkonsentrasi di Pulau Jawa, menyulitkan pabrik gula dan petani di luar Jawa untuk mendistribusikan kelebihan molase yang ada.
Minta Penghapusan Cukai Bioetanol
Izmirta mengungkapkan, dengan kelebihan bahan baku, ekspor stagnan, serta serapan energi dan non-energi yang masih rendah, molase ini dapat dimanfaatkan untuk biofuel. APSENDO juga mengusulkan penghapusan cukai untuk bioetanol fuel grade.
“Karena cukainya satu liter Rp 20.000, jadi membuat harga Pertamax Green lebih mahal Rp 1.000,” ujarnya.
Menurutnya, penghapusan biaya cukai ini dapat meningkatkan serapan di masyarakat serta memberi kemudahan bagi industri.
Hati-hati dengan Deforestasi
Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, melihat banyak persoalan dalam pemanfaatan tetes tebu ini. Mulai dari kelebihan pasokan, ada juga pihak yang justru mengimpor, serta masalah deforestasi yang ditimbulkan.
Menurutnya, kelebihan pasokan yang disebutkan APSENDO harus menjadi di ujung tombak. Maksudnya, karena produknya sudah ada, tinggal dicari bagaimana penggunaannya. “Manfaatkan dulu yang ada, baru bicara yang lain,” kata Putra.
Ia bermaksud untuk mengingatkan, agar pemanfaatan biofuel ini tidak mengganggu kebutuhan pangan, serta meningkatkan deforestasi di Indonesia.