IESR: Geotermal Bisa Jadi Solusi Energi Data Center yang Andal Dibandingkan PLTU

Pertamina Geothermal Energy
IESR menilai geotermal bisa menjadi alternatif pemasok listrik energi bersih untuk data center.
27/11/2025, 13.52 WIB

Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai gelombang pembangunan pusat data (data center) yang dipicu penggunaan kecerdasan buatan (AI) harus diantisipasi dengan penyediaan energi bersih yang andal. 

Manajer Riset IESR, Raditya Wiranegara, menyebut geotermal berpotensi besar menjadi pemasok utama energi untuk data center yang diproyeksikan menyerap energi hingga 4 gigawatt listrik pada 2033, bahkan realisasinya bisa lebih tinggi 2-3 kali lipat dari proyeksi saat ini.

“Geotermal bisa jadi salah satu opsi. Jadi, tidak perlu lagi sebenarnya bangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) untuk menyuplai kebutuhan listrik dari data center ini,” ujar Raditya saat konferensi pers, Kamis (27/11).

Menurutnya, pemanfaatan panas bumi dapat menjadi pilihan yang lebih ekonomis karena berpotensi memangkas sepertiga hingga setengah dari biaya pembangkitan listrik. Namun, saat ini PLTU batu bara masih dianggap lebih bisa diandalkan karena distorsi kebijakan yang membuat biaya dan risikonya ditanggung negara melalui subsidi.

“Kalau kita head to head membandingkan teknologi saja tanpa ada kebijakan, energi baru terbarukan (EBT) sebenarnya sudah lebih murah,” ujarnya.

Tantangan dari Sisi Pengeboran Proyek Geotermal

Meski begitu, Raditya menjelaskan investasi pengeboran menjadi tantangan utama dalam pengembangan panas bumi karena sifatnya capital intensive. Pengeboran yang harus menembus hingga tiga kilometer ke bawah permukaan bumi membuat biaya awal sangat tinggi.

“Kuncinya di situ. Kalau memang mau dibuat murah, ya harus ada kebijakan yang mengatasi risiko ini,” ujarnya.

Ia juga menilai teknologi advanced geothermal system dapat mengurangi ketergantungan pada penemuan reservoir konvensional, sehingga risiko pengembangan panas bumi bisa ditekan.

Raditya menegaskan isu intermitensi pada energi baru dan terbarukan tidak lagi menjadi alasan kuat untuk mempertahankan PLTU. Sistem grid modern sudah memungkinkan integrasi EBT dengan kehilangan energi (energy loss) yang masih bisa menghasilkan penghematan secara keseluruhan.

“Masalah intermitensi ini bisa diatasi sebenarnya,” ujarnya.

Namun,  selama skema kebijakan masih mengunggulkan PLTU, maka keekonomian energi baru terbarukan (EBT) akan selalu terlihat lebih mahal di atas kertas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah