PBB: Investasi Energi Bersih Global Cetak Rekor US$ 2,2 Triliun pada 2025
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan investasi global dalam energi bersih terus meningkat pada tahun 2025, mencapai rekor US$ 2,2 triliun atau Rp 37,08 kuadriliun (kurs Rp 16.850/US$). Gterres menyebut rekor ivestasi energi bersih ini sebagai transisi global yang tak dapat diubah dari bahan bakar fosil.
Dalam pidatonya di hadapan Sidang Majelis Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) ke-16 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Guterres mengatakan nilai investasi energi bersih global kira-kira dua kali lipat jumlah yang diinvestasikan dalam energi bahan bakar fosil di seluruh dunia.
“Transisi energi bersih tidak dapat dihentikan dan tidak dapat diubah,” kata Guterres kepada para delegasi, Minggu (11/1), seperti dikutip Antara. Ia merujuk pada kemajuan pesat dalam teknologi terbarukan dan penurunan biaya di berbagai sektor.
Terlepas dari momentum tersebut, ia memperingatkan pengembangan infrastruktur gagal mengimbangi kemajuan teknologi, mengancam untuk memperlambat transisi energi jika tidak segera ditangani.
Guterres mengatakan pada tahun 2024 dunia menginvestasikan sekitar US$ 1 triliun dalam pembangkit listrik bersih, tetapi pengeluaran untuk jaringan listrik dan infrastruktur terkait kurang dari setengah jumlah tersebut.
Transisi Energi Masih Menghadapi Hambatan
Ia menyebutkan beberapa hambatan yang terus berlanjut, termasuk proses perizinan yang panjang, kapasitas jaringan yang tidak memadai, hambatan dalam rantai pasokan, dan tekanan yang meningkat pada pasar mineral penting.
Guterres menambahkan banyak negara berkembang, khususnya di Afrika, terus menghadapi hambatan besar untuk mengakses pembiayaan yang terjangkau, meskipun mereka memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Guterres menyerukan investasi besar-besaran dalam jaringan listrik modern dan fleksibel, interkoneksi lintas batas yang lebih kuat, dan peningkatan cepat penyimpanan baterai untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan serta menjaga keandalan sistem.
Ia juga menekankan perlunya perluasan jaringan pengisian daya kendaraan listrik untuk mendukung elektrifikasi transportasi dan mengurangi emisi dari salah satu sektor penghasil polusi terbesar di dunia.
Reformasi Kebijakan Energi
Selain itu, Guterres mendesak pemerintah untuk melakukan reformasi kebijakan dan regulasi yang jelas untuk membuat pasar energi lebih efisien, transparan, dan menarik bagi investor jangka panjang.
“Pemerintah harus memberikan aturan yang jelas, jadwal yang dapat diprediksi, dan perizinan yang lebih cepat,” kata Guterres. Ia menambahkan kepastian kebijakan sangat penting untuk membuka modal swasta dalam skala besar.
Guterres mengingatkan para peserta bahwa konferensi iklim COP30 di Belém mengakui, dunia kemungkinan akan sementara melampaui ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celcius.
“Tugas kita jelas: membuat peningkatan suhu tersebut sekecil dan sesingkat mungkin,” katanya. Guterres memperingatkan penundaan akan meningkatkan risiko iklim jangka panjang.
Untuk mencapai tujuan itu, diperlukan pengurangan emisi lebih cepat, lebih dalam, dan masif. Termasuk, dengan mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil, memperluas energi terbarukan secara cepat, dan meningkatkan efisiensi energi secara tajam di seluruh dunia.