Jejak SESNA, Perusahaan Surya yang Disuntik Sriwijaya Capital Arsjad Rasjid
Arsjad Rasjid merambah bisnis energi terbarukan melalui Sriwijaya Capital. Perusahaan modal ventura yang didirikan oleh mantan Ketua Umum Kadin Indonesia itu mengucurkan investasi sebesar US$ 20 juta atau sekitar Rp335 miliar ke PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA Group).
Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 262 MWp yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi baterai (BESS) 80 MWh di Sulawesi Tengah.
Arsjad mengatakan investasi ini mencerminkan keyakinan Sriwijaya Capital terhadap momentum transisi energi di Indonesia serta rekam jejak eksekusi proyek SESNA. Lantas, siapa SESNA dan proyek-proyek apa saja yang telah digarapnya?
SESNA: Dari PLTS Skala Kecil di NTT ke Skala Besar untuk Industri Nikel Morowali
SESNA bukan pemain baru. Perusahaan ini berdiri pada 2013 dengan bisnis utama sebagai produsen listrik sekaligus penyedia layanan engineering, procurement, and construction (EPC) untuk energi surya. SESNA dipimpin oleh Rico Syah Alam sebagai Chief Executive Officer sekaligus pendiri.
Pendirian SESNA beriringan dengan lahirnya regulasi awal Solar Independent Power Producer (IPP) di Indonesia. Tahun 2015 melahirkan tonggak penting bagi SESNA. Perusahaan mengerjakan proyek Solar IPP pertama di Nusa Tenggara Timur. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 1 MWp yang berlokasi di Sumba Timur tersebut mulai beroperasi pada Februari 2017.
Pengembangan kemudian berlanjut ke Maumere dan Ende. Di dua kota tersebut, SESNA membangun PLTS masing-masing berkapasitas 1 MWp yang mulai beroperasi pada Maret 2019.
Sejak 2022, SESNA Group menggarap pasar PLTS skala besar melalui layanan pembangunan terintegrasi hingga siap beroperasi (EPC-Turnkey), serta skema sewa panel surya.
Pada 2023, perusahaan menandatangani perjanjian penyediaan energi ramah lingkungan untuk Nickel Industries (NIC) di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Proyek ini mencakup PLTS berkapasitas 200 MWp yang terintegrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS) 20 MWh, salah satu proyek tenaga surya terbesar di Indonesia yang ditujukan untuk mendukung operasi pengolahan nikel.
Portofolio lain yaitu PLTS hibrida untuk mendukung operasional tambang Kideco Jaya Agung, di Kalimantan Timur. Tambang Kideco memproduksi sekitar 40 juta ton batu bara per tahun dan memasoknya ke lebih dari 60 pelanggan di 16 negara.
Proyek tersebut dikembangkan dalam dua fase. Fase pertama berkapasitas 409 kWp dengan 288 kWh BESS telah beroperasi, sedangkan fase kedua berkapasitas 1.007 MWp dengan 400 kWh BESS.
SESNA juga mengerjakan PLTS di fasilitas PT Indorama Polypet Indonesia di Cilegon, Banten. Dengan kapasitas 1.365 kWp, pembangkit ini memasok sekitar 20-22 persen kebutuhan energi di lokasi tersebut.
PLTS di fasilitas PT AT Indonesia di Karawang, Jawa Barat, juga digarap SESNA. Perusahaan patungan PT Astra Otoparts Tbk dan Aisin Takaoka Co., Ltd. ini memanfaatkan PLTS atap berkapasitas 3.020 kWp untuk mendukung operasional pabrik casting dan machining.
Saat ini, SESNA Group memiliki lebih dari 30 MWp proyek pembangkit tenaga surya dan penyimpanan energi, serta rencana pengembangan lebih dari 450 MWp.