VKTR: Sektor Pertambangan Kian Melirik Opsi Elektrifikasi Truk Operasional

ANTARA FOTO/Anis Efizudin/rwa.
Pekerja merakit kendaraan listrik jenis bus di pabrik PT VKTR Sakti Industries Tempuran, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (29/5/2025).
5/2/2026, 16.07 WIB

Perusahaan-perusahaan tambang semakin melirik inovasi baru yang ramah lingkungan, salah satunya dengan mengganti truk operasional berbahan bakar fosil ke bahan bakar listrik. Hal ini sejalan dengan meningkatnya komitmen perusahaan-perusahaan tambang terhadap penerapan prinsipenvironmental, social, and governance (ESG), dorongan kebijakan pemerintah, dan tuntutan pelanggan. 

Vice President PT VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) Achmad Audrinazta mengatakan, sektor pertambangan menunjukkan antusiasme tinggi untuk melakukan elektrifikasi kendaraan operasionalnya. 

“Analisis kami menunjukkan sekitar 80% permintaan untuk truk tambang berbahan bakar listrik,” kata Adi, dalam acara Industry Dialogue on Sustainable Mining Operations, di Jakarta, pada Kamis (5/2).

Menurutnya, ketertarikan juga kian meningkat karena pemahaman yang kuat industri pertambangan tentang kendaraan listrik komersial. Akan tetapi, prosesnya masih berjalan secara bertahap, belum mengganti sistem menyeluruh. 

“Yang dicapai saat ini elektrifikasi sebagian, terutama truk berat, truk pengangkut utama, kendaraan shuttle, serta loader,” ucap Adi. 

Meskipun begitu, upaya elektrifikasi kendaraan di sektor pertambangan masih menjumpai kendala, salah satunya dari aspek finansial. Biaya di awal cukup tinggi, sementara lembaga finansial yang diharapkan memberi dukungan, belum melihat model finansial yang komprehensif dari elektrifikasi kendaraan tambang.

“Itu (elektrifikasi) butuh 1,5-1,7 kali lipat dari harga truk yang ada,” kata Adi. Angka tersebut belum termasuk kebutuhan fasilitas pengisian daya yang juga membutuhkan modal. 

Mengingat aktivitas pertambangan berjalan tanpa henti, Adi lebih menyarankan industri pertambangan untuk membangun stasiun penggantian baterai. Ini menjadi kesempatan bagi investor dan lembaga keuangan untuk mengambil alih proyek-proyek semacam ini. 

Adi juga berharap ada insentif bagi para pengusaha pertambangan yang mau beralih ke kendaraan listrik untuk operasionalnya. Insentif ini bisa berupa penurunan pajak, keleluasaan mengelola Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), dan sebagainya. 

Saat ini, VKTR masih dalam tahap percobaan untuk memasok unit kendaraan listrik di sektor pertambangan. “Semoga mereka segera memutuskan untuk membeli dan kita supply ke mereka,” ucapnya. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas