Dunia Cemas Harga Migas, Norwegia Tenang Berkat Tingginya Adopsi Mobil Listrik
Banyak negara tengah harap-harap cemas. Harga minyak dan gas (migas) menanjak karena pasokan terancam akibat meluasnya perang di Timur Tengah. Namun, Norwegia tampaknya menjadi salah satu negara yang relatif tenang menghadapi situasi ini. Norwegia adalah eksportir migas yang memilih energi bersih untuk dalam negerinya.
Di negara skandinavia itu, tingkat adopsi kendaraan listrik sangat tinggi. Menurut data per akhir 2025 dari Asosiasi EV Norwegia (NEVA), lebih dari 32 persen dari seluruh mobil yang terdaftar di negara Skandinavia ini merupakan kendaraan listrik berbasis baterai.
Sebanyak 95,9 persen mobil penumpang yang terjual sepanjang 2025 juga merupakan mobil listrik. Angka dominasi mobil listrik dalam penjualan ini mengalahkan capaian di negara basis produsen mobil listrik dunia seperti Cina, Amerika Serikat, Korea Selatan.
Penggunaan mobil komersial bertenaga listrik juga dalam tren menanjak. Sepanjang tahun 2025, sekitar 45,3 persen dari total penjualan mobil komersial di Norwegia berjenis mobil listrik.
Tingginya adopsi ini karena sistem pajak di Norwegia secara sengaja membuat kendaraan berbahan bakar fosil menjadi lebih mahal dibandingkan mobil listrik. Pemerintah Norwegia memberikan berbagai insentif bagi kendaraan listrik, mulai dari pembebasan pajak hingga biaya registrasi yang lebih rendah.
Sebaliknya, mobil bermesin pembakaran internal (ICE) dikenakan pajak lebih tinggi, terutama untuk kendaraan dengan emisi karbon yang besar.
Meski kerap jadi sasaran kritik, kebijakan kontradiktif pemerintah Norwegia -- mendorong transisi energi di dalam negerinya, namun tetap mengekspor energi kotor -- membuat negara ini berpotensi diuntungkan secara finansial di tengah gonjang-ganjing pasokan dan harga energi global.
Berdasarkan data Kementerian Energi Norwegia, negara itu merupakan eksportir gas alam terbesar keempat di dunia, setelah Amerika Serikat, Rusia, dan Qatar. Pada 2024, volume gas yang diekspor Norwegia setara dengan lebih dari 30 persen total konsumsi gas di Uni Eropa dan Inggris.
Hampir seluruh minyak dan gas produksinya diekspor. Secara gabungan, minyak dan gas menyumbang lebih dari separuh nilai total ekspor barang negara tersebut, menjadikannya komoditas ekspor paling penting bagi ekonomi Norwegia.
Dalam sektor kelistrikan, Norwegia juga relatif aman ketika pasokan dan harga energi global bergejolak. Pasalnya, sistem listrik negara ini didominasi pembangkit energi terbarukan. World Energy Council memberikan penilaian A untuk keamanan energi listrik Norwegia. Ini penilaian komparatif: dibandingkan dengan negara lain.
Norwegia tetap memiliki kerentanan, yaitu ketergantungan yang sangat besar pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Pada 2023, sekitar 89 persen pasokan listriknya berasal dari PLTA. Situasi cuaca dan iklim yang tidak mendukung bisa memengaruhi pasokan listrik.
Untuk memperkuat ketahanan energi, pemerintah Norwegia mulai mendorong diversifikasi sumber listrik, antara lain dengan menambah pembangkit tenaga angin dan surya, serta berinvestasi pada teknologi penyimpanan energi (energy storage system).