IESR: Potensi Hidrogen Hijau RI 345 Juta Ton Setahun, Tapi 87% Belum Ekonomis

PLN
Indonesia punya potensi besar menjadi produsen hidrogen hijau.
11/3/2026, 11.58 WIB

Dalam peta jalan yang dirancang pemerintah, penggunaan green hydrogen atau hidrogen hijau jadi jurus Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Dengan besarnya potensi pembangkit listrik energi terbarukan, Indonesia punya peluang jadi produsen kakap hidrogen hijau. 

Dalam perhitungan Institute for Essential Service Reform (IESR), potensi hidrogen hijau mencapai 345,6 juta ton/tahun. Namun, biaya untuk memproduksi 87 persen di antaranya masih tinggi sehingga harganya belum ekonomis. Harganya berada di kisaran US$12/kg, sedangkan harga kompetitif di pasaran sekitar US$4/kg.

Hidrogen hijau yang mencapai harga kompetitif potensial diproduksi oleh pembangkit listrik energi angin darat di Sulawesi dan pembangkit listrik tenaga surya di Sumatra dan Kalimantan.

“Ini harganya cukup kompetitif secara global sebenarnya, tapi untuk memanfaatkan langsung kita butuh instrumen bantuan seperti pendanaan atau subsidi,” kata Head of Industrial Decarbonization IESR, Rheza Hanif Risqianto, dalam forum Green Energy Transition Indonesia Day, Selasa (10/3).

Rheza setuju pemanfaatan hidrogen hijau pada sektor-sektor yang sulit dekarbonisasi, sesuai peta jalan pemerintah. "Kita menggunakan hidrogen untuk solusi pada sektor hard-to-abate,” kata dia. Rekomendasi IESR, penggunaan hidrogen bisa didorong pada industri pupuk dan amonia, besi dan baja, serta maritim dan pelayaran. 

Industri pupuk dan amonia dipilih sebab saat ini praktiknya sudah memanfaatkan hidrogen, meski bukan hidrogen bersih. “Secara teknologi juga sudah mature, jadi kita bisa mengganti bahan baku hidrogen abu-abu menjadi hidrogen hijau,” ujar Rheza.

Di industri besi dan baja, IESR melihat peluang peralihan dari teknologi burner furnace (peleburan dengan bahan bakar fosil) ke teknologi Direct Reduced Iron yang memanfaatkan hidrogen.

Kemudian, pemanfaatan hidrogen untuk bahan bakar sektor maritim dan pelayaran. Ini guna mendukung target net emisi nol atau net-zero emission pada 2050 yang ditetapkan International Maritime Organization. Selain itu, menekan emisi karbon produk-produk Indonesia sehingga bisa tembus pasar Eropa tanpa terkena biaya karbon tinggi.   

Dalam beberapa dekade ke depan, IESR melihat peluang permintaan besar hidrogen hijau dari pembangkit listrik tenaga gas dan batu bara (sebagai bahan bakar pengganti atau alternatif); industri pupuk dan amonia; industri angkutan jarak jauh dan pelayaran; serta industri besi dan baja.

Sedangkan untuk saat ini, industri hidrogen hijau dinilai masih menantang karena belum adanya kepastian permintaan dan industri penyerap atau offtaker. Ini tak lepas dari regulasi yang belum selaras. Tantangan lainnya, pendanaan dan infrastruktur.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.