Forest and Climate Leaders’ Partnership (FCLP) mengajak Indonesia untuk bergabung dalam kemitraan global bidang konservasi dan pemulihan hutan tersebut. Hal ini diungkapkan Secretariat Director FCLP Emelyne Cheney, saat bertemu Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di New York, AS.

Pertemuan antara keduanya berlangsung di sela-sela Sidang ke-21 United Nations Forum on Forests di Markas Besar PBB, pada Selasa (12/5). Dalam kesempatan tersebut, Emelyne berharap Indonesia dapat bergabung ke FCLP.

“Indonesia memiliki posisi strategis dalam kepemimpinan kehutanan global, termasuk dalam pengelolaan hutan tropis, rehabilitasi mangrove, serta pengembangan pasar karbon berbasis kehutanan,” kata dia, dikutip dari keterangan resmi pada Rabu (13/5). 

Cheney juga mendorong Indonesia untuk mempertimbangkan pencalonan diri sebagai Co-Chair FCLP periode mendatang, yang diharapkan berasal dari kawasan Asia. 

FCLP merupakan inisiatif yang diluncurkan pada konferensi tingkat tinggi COP27 di Mesir. Lembaga ini berperan untuk mengoordinasikan aksi politik dan implementasi Deklarasi Pemimpin Glasgow tentang Hutan dan Penggunaan Lahan, mengenai penghentian dan pengembalian hilangnya hutan pada 2030.

Cheney menjelaskan, FCLP fokus pada enam bidang utama, yaitu penguatan kolaborasi internasional dalam ekonomi penggunaan lahan dan rantai pasok berkelanjutan, mobilisasi pembiayaan publik dan donor, transformasi sistem pembiayaan swasta, serta dukungan terhadap masyarakat adat dan komunitas lokal.

Selain itu, FCLP membantu dalam penguatan pasar karbon kehutanan dan pembangunan kemitraan internasional untuk menjaga hutan berintegritas tinggi. 

Sekretariat FCLP kemudian memberi kebebasan kepada Indonesia untuk memilih fokus kerja sama yang paling relevan dan bermanfaat bagi kepentingan Indonesia. Cheney juga menawarkan dukungan jejaring internasionalnya untuk menguatkan berbagai capaian sektor kehutanan Indonesia di kancah global. 

“Sekretariat FCLP juga menyatakan dukungan terhadap inisiatif World Mangrove Center dan siap menjembatani kerja sama dengan 38 negara anggota FCLP serta Uni Eropa,” ujar dia. 

Sebagai informasi, World Mangrove Center merupakan kemitraan global inisiatif Indonesia untuk kolaborasi riset dan inovasi, serta aksi-aksi perlindungan dan restorasi mangrove dunia secara berkelanjutan. 

Dalam kesempatan tersebut, Menhut Raja Juli mendorong pembahasan lebih lanjut mengenai dukungan FCLP terhadap penguatan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) di Indonesia, termasuk peluang meningkatkan pengakuan internasional terhadap SVLK. 

Raja Juli mengatakan, pengakuan timbal balik sistem sertifikasi nasional penting untuk mendukung rantai pasok berkelanjutan dan mendukung agenda pembangunan hijau. Menhut juga mengajak penguatan kerja sama untuk pengembangan pasar karbon Indonesia. 

Indonesia turut membuka peluang kerja sama dengan FCLP untuk penguatan sistem measurement, reporting, and verification (MRV), pengembangan infrastruktur registri karbon, serta penguatan tata kelola pasar karbon.

Peluang kerja sama lainnya dengan memfasilitasi akses terhadap pembeli dan permintaan pasar karbon berkualitas tinggi, hingga mobilisasi investasi untuk pengembangan Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) yurisdiksional dan proyek karbon kehutanan di Indonesia. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas