Suhu Ekstrem Membuat Sungai Memanas, Prancis Hentikan Operasional Beberapa PLTN
Prancis menghentikan operasional beberapa reaktor pada pembangkit listrik tenaga nuklir-nya (PLTN) imbas gelombang panas yang menyebabkan rekor suhu ekstrem. Penghentian ini merupakan langkah perlindungan lingkungan karena suhu air sungai yang digunakan untuk mendinginkan reaktor terus meningkat.
Sepekan ini, perusahaan listrik milik negara Prancis, EDF, telah mengumumkan penghentian tiga reaktor nuklir. Pada Senin (22/6), satu reaktor embangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Golfech, dekat Toulouse, dimatikan setelah suhu air Sungai Garonne melampaui batas aman operasional, yakni 28 derajat Celsius. Reaktor itu memiliki kapasitas pembangkit sekitar 1.300 megawatt.
PLTN menggunakan air sungai untuk mendinginkan reaktor sebelum mengalirkannya kembali ke sungai. Suhu air yang dilepas umumnya meningkat. Berdasarkan ketentuan hukum di Prancis, EDF wajib memantau suhu sungai agar air buangan dari proses pendinginan tidak merusak ekosistem perairan.
Saat gelombang panas terjadi dan suhu sungai meningkat, operator harus mengurangi atau menghentikan produksi listrik agar suhu air buangan tetap berada di bawah batas yang ditetapkan pemerintah.
Pada Kamis (25/6), EDF menghentikan operasi dua reaktor lainnya. Kedua reaktor tersebut berada di PLTN Nogent-sur-Seine di Sungai Seine, sebelah utara Paris, serta PLTN Bugey di Sungai Rhone, dekat Lyon, Prancis tenggara.
Mengutip pemberitaan Euronews, operator jaringan listrik Prancis, RTE, menyatakan bahwa pasokan listrik nasional masih mencukupi meski beberapa pembangkit tidak beroperasi.
Gelombang panas di Prancis telah menelan puluhan korban jiwa. Hingga Senin (22/6), sedikitnya 18 orang dilaporkan meninggal akibat cuaca panas. Selain itu, sedikitnya 40 orang tenggelam sejak 18 Juni. Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengatakan sebagian besar korban merupakan anak muda.
Dampak gelombang panas juga dirasakan negara-negara lain di Eropa, termasuk Jerman, Spanyol, Portugal, Inggris dan Swiss. Kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Ratusan sekolah ditutup atau memulangkan siswa lebih awal, sedangkan layanan kereta di sejumlah kota, termasuk Paris dan Brussel, dikurangi untuk mengurangi risiko gangguan operasional akibat suhu ekstrem.
Mengutip GB News, gelombang panas dipicu oleh massa udara panas dari Gurun Sahara yang terdorong ke Eropa oleh sistem tekanan udara tinggi yang dikenal sebagai African anticyclone. Sistem ini membentuk kubah panas (heat dome), yakni kondisi ketika udara panas terperangkap di dekat permukaan selama beberapa hari, sehingga suhu di sejumlah wilayah melonjak hingga mencapai 46 derajat Celsius.