Kirim Surat ke Menteri ESDM, Arab Saudi Siap Investasi PLTS 1.000 MW

ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.
Ilustrasi panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
25/6/2021, 14.29 WIB

Kementerian ESDM menyebut minat investasi untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia makin ramai. Bahkan, Arab Saudi sudah menyatakan kesiapannya untuk investasi di pembangkit energi bersih ini hingga 1000 Megawatt (MW).

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengatakan banyak dari investor tertarik untuk terjun ke bisnis PLTS. Mulai dari Amerika, Eropa, Tiongkok, Jepang dan Arab Saudi.

"Contohnya kerajaan Arab Saudi sudah mengirimkan surat ke Menteri ESDM, siap untuk berinvestasi 1000 MW di PLTS. Sudah siap tuh suratnya resmi sudah disampaikan ke Menteri ESDM," kata Dadan dalam bincang-bincang secara virtual bersama Katadata.co.id, Jumat (25/6).

Saat ini Kementerian ESDM masih menanti persetujuan Presiden Joko Widodo terkait kebijakan yang mengatur mengenai harga beli energi dari pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT). Kemudian juga terkait Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN Tahun 2021—2030 yang saat ini masih dalam pembahasan.

Kendati demikian, pemerintah juga tetap memperhatikan perusahaan lokal yang akan terjun ke bisnis PLTS. Mengingat sudah ada aturan yang memuat tentang penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk pembangkit listrik energi terbarukan.

"Kita akan mencari titik seimbang. Industri dalam negeri berkembang. EBT juga harus jalan," katanya.

Dadan pun berharap supaya komponen TKDN terus meningkat dan investor hulu PLTS banyak berdatangan. Ia pun berharap komponen seperti cell dan panel surya yang masih mengandalkan impor dapat segera diproduksi di dalam negeri.

Untuk diketahui, dalam draft Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, target penambahan kapasitas PLTS hingga 2030 mendatang mencapai 5.969 MW. Dimana berdasarkan rekapitulasi sementara ini sebanyak 1.408 MW sudah selesai pembahasannya dan 4.561 MW masih perlu didiskusikan lebih lanjut.