KLH Soroti Pertanian Kol dan Kentang yang Merambah Gunung Usai Longsor Cisarua
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menduga perubahan tata guna lahan untuk pertanian tanaman subtropis menjadi salah satu faktor penyebab bencana tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Menurut Hanif, fenomena tersebut tak lepas dari urbanisasi yang kian masif di kota-kota besar, yang turut mengubah pola konsumsi masyarakat. Perubahan itu mendorong meningkatnya permintaan komoditas pangan yang bukan merupakan kebiasaan lokal.
“Sebenarnya ini ada aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika. Itu semua tanaman daerah subtropis,” kata Hanif, seperti dikutip Antara, Minggu (26/1).
Ia menjelaskan, tanaman subtropis umumnya dibudidayakan di wilayah dengan ketinggian 800 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun, karakter lingkungan di kawasan tersebut dinilai tidak sepenuhnya sesuai.
“Ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini,” ucap dia. Berdasarkan pemantauannya, ekspansi pertanian di kawasan tersebut belum terjadi secara masif pada tahun lalu.
Bencana longsor melanda Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu (24/1). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (26/1), jumlah korban meninggal dunia mencapai 17 orang, sementara lebih dari 80 orang dilaporkan hilang.
KLH Turunkan Tim Ahli Dalami Penyebab Longsor Cisarua
Hanif menyampaikan, Kementerian Lingkungan Hidup akan menurunkan tim ahli untuk mengkaji kondisi lingkungan pascabencana. Langkah ini bertujuan agar pemerintah dapat memahami secara menyeluruh penyebab longsor serta potensi risiko lanjutan.
“Kami menurunkan tim ahli sebagaimana kami lakukan di Sumatera. Kalau bicara lingkungan, ini harus saintis, tidak bisa main kira-kira, guna menentukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut,” kata dia.
Tim ahli tidak hanya akan mengkaji titik longsor, tapi seluruh lanskap kawasan terdampak. Kajian tersebut mencakup kondisi tanah, vegetasi, serta potensi terjadinya bencana susulan. Kajian diharapkan selesai dalam dua minggu.