Kenapa Sawit Kehilangan 'Keajaiban’ Bila Ditanam Skala Besar?
Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Arie Rompas tidak menampik anggapan kelapa sawit sebagai miracle crop atau tanaman ajaib, seperti yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional 2026. Namun, label itu dinilai tak lagi cocok ketika kelapa sawit ditanam dalam skala besar dan monokultur.
“Sebagai tanaman atau tumbuhan, sawit tidak bermasalah,” kata Arie kepada Katadata, Rabu (4/2).
Arie menjelaskan, kelapa sawit tidak menimbulkan persoalan bila ditanam secara terbatas. Dia mencontohkan Suku Dayak yang mengolah umbut kelapa sawit menjadi sayuran.
Masalah muncul ketika sawit dikembangkan dalam bentuk perkebunan skala besar untuk memenuhi produksi minyak sawit mentah dan produk turunannya. Sawit yang ditanam skala besar dan secara monokultur ini harus didahului pembukaan lahan di kawasan hutan.
“Sawit akan menghancurkan hutan, memicu deforestasi, menghilangkan keanekaragaman hayati, sekaligus melepaskan emisi dari aktivitas pembukaan lahan skala besar,” ujarnya.
Selain itu, kebutuhan lahan yang besar memicu perampasan hak-hak masyarakat atas tanahnya. Ini kemudian memicu banyaknya konflik di wilayah ekspansi perkebunan kelapa sawit.
Arie menilai, kebutuhan pasar yang terus menagih pasokan kelapa sawit ikut mengawetkan pandangan sawit sebagai tanaman ajaib. “Logika pasar terus mengakumulasi modal, sehingga sawit seolah tidak punya batas,” kata dia.
Padahal, menurut Arie, masih ada jalan untuk menjaga kontribusi ekonomi sawit tanpa harus terus memperluas lahan. Salah satunya dengan meningkatkan produktivitas perkebunan yang sudah ada.
Padahal, menurut Arie, masih ada jalan untuk menjaga kontribusi ekonomi sawit tanpa harus terus memperluas lahan. Salah satunya dengan meningkatkan produktivitas perkebunan yang sudah ada.
Dia membandingkan luas perkebunan sawit Indonesia yang mencapai sekitar 17 juta hektare dengan Malaysia yang hanya sekitar 7 juta hektare. Meski luasnya jauh berbeda, produktivitas keduanya relatif setara.
“Artinya, kalau pemerintah mau, tingkatkan produktivitasnya, bukan ekspansi lagi,” ujarnya. Upaya ini, kata Arie, juga harus melibatkan petani sawit rakyat, bukan hanya segelintir pelaku usaha besar.
Ekspansi perkebunan sawit justru memperbesar risiko bencana alam akibat menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan. Kawasan yang seharusnya menjadi daerah tangkapan air beralih fungsi menjadi perkebunan.
Risiko tersebut, menurut Arie, berpotensi meningkat seiring penerapan kebijakan biodiesel berbasis minyak sawit. Data Greenpeace Indonesia pada 2019 menunjukkan, penerapan B40 berpotensi menambah sekitar 7 juta hektare lahan perkebunan sawit. “B50 ini akan sedikit luas lagi,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo menyebut kelapa sawit sebagai miracle crop dalam pidatonya pada Rakornas 2026, Senin (2/2). Dia mengatakan bahwa kini sawit tidak hanya berperan sebagai bahan baku minyak goreng, tapi juga berkembang sebagai sumber energi, mulai dari biosolar hingga bioavtur. Bahkan, menurut Prabowo, minyak sawit mentah Indonesia sangat diminati pasar global. Dia pun menyatakan akan memanfaatkan kelapa sawit hingga olahan limbahnya untuk masyarakat Indonesia.