Masuknya Danantara Bisa Membuka Babak Baru Pengembangan Panas Bumi
Pengembangan panas bumi di Indonesia bisa memasuki babak baru dengan keterlibatan Danantara.
Principal Geophysicist Petronas Makky Jaya menjelaskan, tantangan utama panas bumi terletak pada kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) yang besar di tahap awal. Risiko kegagalan eksplorasi dan pengeboran membuat biaya investasi awal jauh lebih tinggi dibandingkan pembangkit litsrik tenaga batu bara atau surya.
“Namun jika melihat gambaran besarnya, biaya operasional panas bumi justru paling stabil dan kompetitif dalam jangka panjang karena tidak terpengaruh fluktuasi harga komoditas global seperti energi fosil,” ujarnya dalam diskusi yang digelar Center for Strategic Development Studies (CSDS) MITI, Kamis (19/2).
Dalam konteks ini, keterlibatan Danantara dinilai bisa berperan untuk menarik investor dan lembaga keuangan masuk ke sektor ini. "Hambatan utama investasi energi terbarukan selama ini adalah profil risiko yang tidak sebanding dengan skema perbankan konvensional. Di sini-lah peran vital Danantara untuk masuk sebagai instrumen 'penjamin risiko' yang bisa memberikan kepercayaan diri bagi investor global,” kata dia.
Saat ini, terdapat proyek peningkatan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Ulubelu, Lampung dan Lahendong, Sulawesi Utara dengan penggunaan teknologi cogeneration. Ini disebut-sebut akan jadi proyek percontohan dimana Danantara terlibat dalam urusan pendanaannya.
Peluang Swasembada Energi dengan Panas Bumi
Guru Besar Geothermal Universitas Indonesia Yunus Daud menilai Indonesia perlu mengembangkan pembangkit tenaga panas bumi bila serius ingin swasembada energi. “Potensi 24 gigawatt yang kita miliki adalah harta karun yang terkubur," ujarnya.
Yunus menjelaskan, tenaga panas bumi lebih unggul dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya. Kapasitas atau capacity factor-nya mencapai 80-90 persen, jauh melampaui energi surya atau angin yang bersifat intermiten.
Selain itu, emisi karbon yang dihasilkan sangat rendah, yakni 34-330 gram CO2 per kilowatt-jam. "Menjadikannya solusi paling bersih dan stabil untuk dekarbonisasi industri,” ujarnya.
Fasilitas panas bumi juga memiliki masa operasional yang sangat panjang, bahkan bisa bertahan hingga lebih dari 40 tahun dengan pemeliharaan yang tepat.
Tantangannya, kata dia, adalah bagaimana Indonesia berani melakukan terobosan teknologi seperti cogeneration untuk mengekstraksi energi dari aset yang sudah ada tanpa harus selalu memulai dari nol.