Lonjakan Emisi Karbon Mengintai di Tengah Meluasnya Perang di Timur Tengah
Perang yang pecah bertubi-tubi dalam beberapa tahun terakhir berkontribusi terhadap perubahan iklim. Penelitian terhadap perang Israel-Palestina di Gaza menunjukkan besarnya lonjakan gas rumah kaca imbas perang. Kini, lonjakan kembali mengintai di tengah meluasnya perang di Timur Tengah.
Pada 2023-2024 lalu, Gabungan peneliti dari University of Energy and Natural Resources di Ghana, Lancaster University, Queen Mary University of London, Climate and Community Project, serta The Conflict and Environment Observatory mencoba menghitung jejak karbon dari konflik Israel-Palestina di Gaza.
Riset tersebut berfokus pada 120 hari pertama konflik, yakni Oktober 2023 hingga Februari 2024. Dalam periode itu saja, perang diperkirakan menghasilkan emisi langsung 420.265 hingga 652.552 ton CO₂ ekuivalen. Nilai tengah dari kisaran produksi emisi tersebut lebih tinggi dari emisi tahunan di 36 negara.
Emisi langsung tersebut berasal dari berbagai aktivitas militer dan logistik, mulai dari penerbangan kargo, pengeboman dan penerbangan pengintaian, penggunaan tank dan kendaraan militer, peluncuran roket, hingga konsumsi bahan bakar untuk pembangkit listrik di Gaza dan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Jejak karbon perang juga muncul dari pembangunan infrastruktur militer. Pembangunan jaringan terowongan oleh Hamas serta sistem pertahanan Israel yang dikenal sebagai “Tembok Besi” turut menyumbang emisi tambahan. Aktivitas ini diperkirakan menghasilkan tambahan sekitar 620.010 ton CO₂ ekuivalen.
Sedangkan lonjakan emisi terbesar diperkirakan terjadi pada tahap pembangunan kembali Gaza. Proyeksinya emisinya sekitar 53,4 juta ton CO₂ ekuivalen. Ini lebih besar dari emisi tahunan lebih dari 135 negara, dan setara dengan emisi tahunan negara seperti Sweden dan Portugal.
“Ini lebih dari emisi tahunan 135 negara, menunjukkan jejak karbon signifikan dari konflik bersenjata dan kebutuhan mendesak untuk memperhitungkan emisi karbon selama perang,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut.
Bila dibandingkan dengan aktivitas energi fosil, total emisi dari perang ini diperkirakan setara dengan pembakaran sekitar 31.000 kiloton batu bara. “Emisi tersebut setara dengan pengoperasian sekitar 16 pembangkit listrik tenaga batu bara selama satu tahun,” tulis laporan itu.
Para peneliti mengakui perhitungan ini masih memiliki keterbatasan. Sebagian besar estimasi dilakukan menggunakan data terbuka dari laporan media, karena data resmi sulit diperoleh selama konflik berlangsung. Karena itu, angka yang dihasilkan kemungkinan belum sepenuhnya menggambarkan keseluruhan emisi yang terjadi.
Di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah, lonjakan emisi serupa, bahkan dalam skala lebih besar, berpotensi kembali terjadi. Ini bakal memperumit upaya global untuk pengendalian perubahan iklim.