Bukan Hanya Ikan Sapu-Sapu, Ini Deretan Ikan Asing Invasif di Perairan Indonesia
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah berupaya membasmi ikan sapu-sapu karena mengancam ekosistem sungai. Meski begitu, ikan sapu-sapu tidak hanya mengancam sungai-sungai di wilayah Jakarta. Ikan ini pun bukan satu-satunya ikan asing berjenis invasif yang masuk perairan Indonesia.
Ikan sapu-sapu yang berasal dari Sungai Amazon di Amerika Selatan ini memasuki wilayah negara tropis seperti Indonesia, Malaysia, atau Filipina, melalui perdagangan ikan hias. Mulanya, ikan ini bertugas membersihkan kaca akuarium, namun akhirnya lepas ke alam baik secara sengaja atau tidak sengaja.
Tidak hanya di sungai-sungai Jakarta, sejumlah penelitian mengungkap keberadaan ikan sapu-sapu di wilayah lain, seperti Danau Tempe dan Danau Sidenreng di Sulawesi Selatan. Beberapa waktu lalu, beredar juga video di media sosial yang memperlihatkan pelepasan sekarung ikan sapu-sapu di pelabuhan Balige, di perairan Danau Toba.
Sedangkan berdasarkan laporan penelitian berjudul ‘Distributional Mapping and Impacts of Invasive Alien Fish in Indonesia: An Alert to Inland Waters Sustainability’, ditemukan 50 spesies ikan asing dan 18 spesies di antaranya tergolong invasif atau berdampak negatif pada lingkungan di Indonesia.
Angka tersebut didapat melalui analisis 174 artikel penelitian mengenai spesies asing dan invasif di 72 danau dan 57 sungai di 28 provinsi Indonesia. Beberapa spesies invasif menurut studi tersebut di antaranya alligator gar, arapaima gigas, sejumlah spesies ikan sapu-sapu, ikan zebra cichlid, serta ikan lou han alias flowerhorn cichlid alias red devil.
Spesies asing maupun invasif ini ditemukan di danau dan sungai di lima pulau besar Indonesia. Namun berdasarkan penelitian tersebut, paling banyak ditemukan di Jawa 39 spesies, kemudian Sumatra 23 spesies, Sulawesi 15 spesies, Bali 11 spesies, Lombok 10 spesies, Papua 8 spesies, Kalimantan 7 spesies, serta Sumbawa dan Sumba masing-masing 3 spesies.
Ledakan Ikan Lou Han di Danau Toba, Bisa Dikendalikan dengan Dikonsumsi?
Berdasarkan studi tahun 2024 yang dilakukan oleh tim dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University di perairan Danau Toba, ada tujuh spesies ikan yang berada di perairan tersebut. Yang paling melimpah adalah ikan lou han alias red devil.
Ikan asal Nikaragua, Amerika Tengah, ini dilaporkan berkembang masif di area perairan Danau Toba. Menurut peneliti Charles Simanjuntak, hal ini disebabkan tidak adanya predator alami ikan tersebut di Danau Toba.
Ikan ini juga bersifat omnivora cenderung karnivora, sehingga dapat memangsa semua jenis makanan yang tersedia, termasuk anak ikan dari spesies lainnya.
Di samping itu, ikan ini tak banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan baku makanan seperti bakso atau kerupuk. Hal ini membuat populasi red devil awet dan cenderung bertambah.
Namun sebetulnya, kata Charles, ikan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk mengurangi stunting bagi anak-anak.