RI-Australia Kembangkan AI Deteksi Dini Banjir Rob hingga Teknologi Air Bersih
Para peneliti dari Universitas Telkom Indonesia dan Universitas Wollongong Australia mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk sistem peringatan dini banjir rob. Inovasi yang didanai kemitraan Australia-Indonesia atau KONEKSI ini dikembangkan di Demak, Semarang, dan Pekalongan.
Ketiga wilayah di pesisir utara Jawa ini selama ini rentan terhadap bencana banjir rob, yang merupakan dampak dari perubahan iklim karena kenaikan muka air laut dan penurunan permukaan tanah. Aplikasi yang dirancang para peneliti dapat diakses publik melalui ponsel sehingga masyarakat dapat mengantisipasi potensi banjir lebih dini.
“Warning monitoring system bisa ditampilkan di sebuah dashboard dan bisa diakses secara publik melalui aplikasi di handphone,” kata Miftadi Sudjai, peneliti dari Universitas Telkom Indonesia, dalam diskusi Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit, Kamis (30/4).
Pengembangan aplikasi diawali dengan desain awal, survei lokasi, serta identifikasi persoalan yang dihadapi masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan AI dan Internet of Things (IoT) menghasilkan solusi yang lebih tepat guna.
Melalui sistem tersebut, peneliti berharap risiko kerugian akibat banjir rob dapat ditekan. Masyarakat pun diharapkan lebih siaga dalam menghadapi dampaknya.
Kolaborasi ini juga melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juana Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,serta PT Hilmy Anugerah Consulting Engineer Ltd.
Masalah Lain Warga Pesisir: Air Bersih
Persoalan di wilayah pesisir tidak berhenti pada banjir rob. Keterbatasan air bersih juga masih menjadi tantangan sehari-hari warga. Penelitian Universitas Diponegoro bersama Australian National University menemukan, sebagian warga pesisir Jepara masih harus mengantre air bersih hingga larut malam.
Merespons kondisi tersebut, para peneliti dengan dukungan KONEKSI mengembangkan mesin pengolah air kotor menjadi air bersih. Saat ini, mesin tersebut telah dibangun di 16 titik di Jepara.
“Harapannya menjadi benchmark, bisa menjadi tempat edukasi bagi banyak pihak, seperti pemerintah daerah, universitas, serta wilayah lainnya,” ujar peneliti Universitas Diponegoro, I Nyoman Widiasa.
Membangun Ketahanan Air
Upaya penguatan ketahanan air juga dilakukan di wilayah lain. Di Sumbawa, Malaka, dan Maluku Tengah, peneliti Universitas Gadjah Mada bersama Australian National University memperkuat praktik agroforestri—kombinasi tanaman pertanian dan kehutanan—yang telah lama dijalankan masyarakat.
Pendekatan ini didorong agar tidak hanya berfungsi secara tradisional, tetapi juga memenuhi prinsip climate smart, yakni mampu menjaga jasa lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi dan penghidupan masyarakat.
“Yang jadi pertanyaan, apakah itu termasuk climate smart? Kami juga mendorong desa-desa untuk saling belajar apa saja tantangan yang dihadapi,” kata peneliti UGM Ahmad Maryudi.
Sementara itu, penelitian di Sleman, Garut, Sintang, Sumba Timur, dan Lampung Selatan menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan, pendanaan, dan regulasi dalam membangun layanan air pedesaan yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Untuk itu, para peneliti dari UGM, UI, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan University of Technology Sydney mengembangkan perangkat pemantauan dan penilaian ketahanan layanan air pedesaan terhadap risiko iklim.
Di tengah berbagai inovasi tersebut, pemerintah mulai mendorong agar hasil riset tidak berhenti di tahap pengembangan. Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, Yos Sunitiyoso, menyebut pentingnya model bisnis agar produk dapat berkelanjutan.
“Ujungnya tidak hanya produk berkelanjutan, tapi bisnis berkelanjutan yang memberi manfaat ekonomi maupun sosial bagi masyarakat,” kata Yos.