Emisi Metana RI dari Sektor Energi Fosil Terbesar Kedua di Asia Tenggara-Selatan

ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar
Foto udara sejumlah alat berat beroperasi di salah satu tempat penampungan (stockpile) batu bara di kawasan pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Jumat (9/1/2026). IEA mengestimasi Indonesia menghasilkan lebih dari 3 juta ton emisi metana dari sektor migas dan batu bara.
6/5/2026, 08.59 WIB

Indonesia menempati posisi kedua se-kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan dalam soal emisi metana dari sektor bahan bakar fosil pada 2025. Emisi metana Indonesia diperkirakan melebihi 3 juta ton, paling banyak berasal dari sektor batu bara dan sisanya dari minyak bumi dan gas.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru International Energy Agency (IEA) bertajuk ‘Global Methane Tracker 2026’, yang dirilis pada Senin, (4/5). Indonesia hanya satu langkah di belakang India yang diestimasi menghasilkan hampir 4 juta ton emisi metana.

Metana merupakan gas rumah kaca paling berbahaya kedua setelah karbon dioksida. Gas ini menjebak panas di atmosfer melalui proses yang dikenal sebagai radiative forcing, sehingga mempercepat pemanasan global.

Selain itu, metana memicu pembentukan ozon troposfer (ozon di lapisan bawah atmosfer), yaitu polutan berbahaya bagi kesehatan. Kebocoran metana bahkan dapat menimbulkan risiko ledakan.

Secara total, sektor bahan bakar fosil di kawasan Asia Tenggara dan Selatan diperkirakan menghasilkan metana sebanyak 13 juta ton tahun lalu. Beberapa tahun terakhir, produksi metana disebut berada dalam tren meningkat dipicu oleh kenaikan permintaan energi dan produksi bahan bakar fosil.

"Namun, produksi bahan bakar fosil dan emisi metana terkait di kawasan ini diharapkan mulai turun di tahun-tahun mendatang," begitu tertulis dalam laporan IEA.

IEA mengestimasi, emisi metana global dari sektor bahan bakar fosil mencapai 124 juta ton tahun lalu, atau sekitar 35 persen dari total emisi metana buatan manusia. Sumber utamanya yaitu dari produksi minyak (45 juta ton), diikuti batu bara (43 juta ton), dan gas alam (36 juta ton). 

Sisanya, sebanyak 20 juta ton berasal dari produksi dan konsumsi bioenergi, terutama pembakaran tidak sempurna biomassa tradisional, yang seringkali digunakan untuk memasak dan pemanas di negara-negara berkembang.

Sebanyak 70 persen metana tersebut berasal 10 negara penghasil emisi karbon terbesar dunia. Cina menghasilkan metana terbesar yaitu lebih dari 25 juta ton, diikuti Amerika Serikat, Rusia, Iran, Turkmenistan, India, Venezuela, Indonesia, Kazakstan, dan Irak. 

Produksi metana di 10 negara penghasil emisi karbon terbesar dunia (IEA)

Catatan "Positif" Intensitas Metana India dan Indonesia

Jadi penghasil metana dari bahan bakar fosil terbesar se-Asia Tenggara dan Asia Selatan, India dan Indonesia punya catatan "positif" dalam soal intensitas emisi. 

Intensitas emisi menunjukan seberapa intens produksi metana dalam kegiatan produksi. Dalam laporan IEA, intensitas emisi dihitung dengan cara membagi total metana dari kegiatan hulu dengan total produksi migas atau batu bara.

"In India and Indonesia, intensitas emisi (dalam produksi batu bara) di bawah rata-rata global," demikian tertulis. Meski begitu, intensitas emisi dalam produksi minyak dan gas Asia Tenggara masih berada di kisaran rata-rata global, dengan intensitas terendah di Malaysia dan Brunei karena banyak lapangan migasnya di laut lepas atau offshore.

Intensitas metana dalam kegiatan produksi energi fosil masih bisa lebih rendah dari saat ini. Menurut IEA, sekitar 70 persen emisi metana dari bahan bakar fosil -- setara hampir 85 juta ton -- dapat ditekan dengan teknologi yang sudah ada.

Di sektor pertambangan batu bara misalnya, emisi metana dapat dikurangi dengan menangkap dan menggunakannya. Atau, menghilangkannya misalnya dengan teknologi oksidasi.

Di sektor minyak bumi dan gas, upaya menekan emisi metana dapat dilakukan dengan penambahan teknologi pengolahan atau kompresi (vapour-recovery units) untuk menangkap aliran metana bertekanan rendah yang terbuang. 

Berdasarkan perhitungan IEA, upaya pengendalian lebih dari 35 juta ton emisi bahkan bisa menyisakan "untung". "Hal ini karena biaya investasi dan operasional untuk menekan emisi lebih rendah dibandingkan nilai ekonomi gas yang ditangkap dan kemudian dijual atau dimanfaatkan kembali," demikian tertulis. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas