Menhut Cari Dana Global untuk Taman Nasional di Forum Kehutanan PBB

Kementerian Kehutanan
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Sidang ke-21 United Nations Forum on Forests di Markas Besar PBB, New York, Senin (11/5).
12/5/2026, 16.12 WIB

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengajak komunitas internasional, lembaga donor, dan sektor swasta global untuk turut mendukung pengelolaan taman nasional di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Raja Juli saat menghadiri Sidang ke-21 United Nations Forum on Forests di Markas Besar PBB, New York, pada Senin (11/5). 

Raja Juli yang sekaligus menjabat sebagai Wakil Ketua Satuan Tugas Pembiayaan Inovatif untuk Taman Nasional dan Konservasi Spesies Ikonik menjelaskan, pihaknya berperan dalam merancang skema pembiayaan yang inovatif, berkelanjutan, dan berorientasi untuk jangka panjang. Perdagangan karbon dan ekowisata jadi andalan.

“Kami mengundang kemitraan global untuk memperkuat pendanaan dan transfer teknologi dalam pengelolaan taman nasional,” kata Raja Juli, dalam keterangan resmi dikutip pada Selasa (12/5).

Indonesia membidik pengelolaan taman nasional berstandar dunia yang tak hanya meningkatkan penyerapan karbon, tapi sekaligus melindungi spesies ikonik yang terancam punah. 

Sejalan dengan hal itu, Raja Juli mengatakan, pengembangan taman nasional mengarah pada prinsip keberlanjutan. Fungsi ekologis dan kelestarian biodiversitas tetap diprioritaskan saat memanfaatkan kawasan. 

“Pesan utama yang kami bawa adalah ecological before tourism. Fungsi ekologis dan kelestarian biodiversitas harus didahulukan sebelum kita berbicara mengenai pengembangan pariwisata,” ujar Raja Juli.

Hanya 30% Pendanaan Taman Nasional dari APBN

Sebelumnya, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko mengatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya menyediakan 30 persen kebutuhan pembiayaan taman nasional. 

Guna menutup jurang pembiayaan, Satgas Pembiayaan Inovatif untuk Taman Nasional dan Konservasi Spesies Ikonik merencanakan beberapa skema. Pertama, kerja sama dengan berbagai lembaga konservasi non-pemerintah untuk pengelolaan keanekaragaman hayati di taman nasional.

Kedua, mengumpulkan dana lingkungan dari para filantropi. “Kami namai dengan IBiofund (Indonesia Biodiversity Fund), menarik dana dari filantropi, untuk menempatkan dana di situ,” kata Satyawan.

Ketiga, kerja sama dengan sektor swasta. Salah satu yang direncanakan adalah program ‘One Company, One Species’. Sebuah perusahaan dapat membentuk program konservasi yang khusus menargetkan satu spesies di habitat alaminya.

Selain itu, pihaknya tetap membuka opsi pengusahaan berupa ecotourism dan perdagangan karbon.  

Skema-skema itu akan lebih dulu diterapkan pada 13 taman nasional yang dijadikan pemodelan. Kawasan konservasi itu merepresentasikan berbagai model taman nasional, baik ekosistem kelautan, dataran rendah, spesies ikonik, keterlibatan masyarakat, dan sebagainya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas