Peneliti Temukan Cara Prediksi Pemutihan Karang Setengah Tahun Sebelum Terjadi
Para peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), Amerika Serikat, mengembangkan metode yang memungkinkan risiko pemutihan karang diprediksi hingga lima sampai enam bulan sebelum terjadi. Temuan ini diharapkan memberi waktu lebih panjang bagi pengelola kawasan konservasi untuk melindungi terumbu karang dari kerusakan.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment tersebut menemukan bahwa pemutihan karang di Pulau Curacao, Karibia, cenderung terjadi ketika tiga pola iklim utama di Samudra Atlantik dan Pasifik muncul dalam kombinasi tertentu yang memperkuat pemanasan laut.
Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti kemudian mengembangkan sistem peringatan dini bernama Bleaching Event Early Predictor (BEEP). Sistem ini memantau perubahan tiga pola iklim tersebut beberapa bulan sebelum puncak musim panas, saat risiko pemutihan karang biasanya meningkat.
Penulis utama studi sekaligus peneliti doktoral program gabungan Massachusetts Institute of Technology (MIT)-WHOI, Mariya Galochkina, mengatakan metode prediksi yang tersedia saat ini umumnya mengandalkan pemantauan suhu laut secara hampir real time.
"Prediksi seperti itu sering kali tidak memberikan cukup waktu bagi pengelola terumbu karang untuk mempersiapkan langkah mitigasi, atau tingkat akurasinya masih terbatas," kata Mariya, dikutip dari situs resmi WHOI, Rabu (3/6).
Berbeda dengan pendekatan tersebut, BEEP memanfaatkan pola iklim berskala besar yang dapat memengaruhi kondisi laut beberapa bulan kemudian.
"Kami menggunakan pola-pola iklim global yang saling berinteraksi dan memengaruhi kondisi laut serta atmosfer dengan jeda waktu tertentu. Karena itu, risiko pemutihan karang dapat dikenali beberapa bulan lebih awal," ujarnya.
Waktu tambahan tersebut dinilai penting bagi program restorasi karang. Pengelola dapat memindahkan fragmen karang dari lokasi pembibitan di laut ke area yang lebih sejuk, atau sementara memindahkannya ke fasilitas pembibitan berbasis darat jika risiko pemutihan diperkirakan tinggi.
Pemutihan karang terjadi ketika suhu laut terlalu hangat dalam waktu lama. Kondisi ini membuat karang mengeluarkan alga mikroskopis yang hidup di dalam jaringannya. Padahal, alga tersebut menyediakan sebagian besar energi sekaligus memberi warna pada karang. Jika berlangsung berkepanjangan, pemutihan dapat menyebabkan kematian karang dalam skala luas.
Untuk memahami pola pemutihan dalam jangka panjang, para peneliti menganalisis 44 sampel inti kerangka karang dari Curaçao. Saat mengalami pemutihan, pertumbuhan karang meninggalkan jejak berupa lapisan padat yang khas di dalam kerangkanya, yang dikenal sebagai stress band atau pita stres.
Dengan bantuan pemindaian CT, tim peneliti berhasil merekonstruksi riwayat pemutihan karang selama 72 tahun, dari 1950 hingga 2022. Hasilnya menunjukkan pemutihan besar baru mulai sering terjadi sekitar 1990, setelah suhu laut meningkat secara signifikan.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pemutihan karang berulang kali terjadi ketika tiga pola iklim global berada dalam kondisi tertentu secara bersamaan, yakni Atlantic Multidecadal Variability (AMV), El Nino Southern Oscillation (ENSO), dan North Atlantic Oscillation (NAO).
Kombinasi ketiganya dapat melemahkan angin di kawasan Karibia dan mengurangi proses naiknya air laut dingin dari lapisan yang lebih dalam ke permukaan. Akibatnya, suhu laut di sekitar terumbu karang meningkat hingga melampaui batas toleransi karang.
Saat ini BEEP difokuskan untuk wilayah Curacao. Namun, para peneliti menilai pendekatan serupa berpotensi diterapkan di kawasan terumbu karang lain di Karibia maupun wilayah tropis lainnya.
Peneliti senior WHOI sekaligus salah satu penulis studi, Anne Cohen, mengatakan pengembangan BEEP dimungkinkan berkat puluhan tahun penelitian iklim dan pemantauan bumi secara berkelanjutan, termasuk melalui satelit.