Perubahan Iklim Bisa Pangkas Lahan Kopi Arabika Sumatra hingga 90%

ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/wsj.
Petani memperlihatkan biji kopi arabika di Mendale, Takengon, Aceh Tengah, Aceh, Minggu (14/6/2026).
24/6/2026, 20.10 WIB

Produksi kopi Indonesia menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim. Sejumlah studi, termasuk penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Regional Environmental Change, memproyeksikan perubahan iklim dapat mengurangi hingga sekitar 90 persen area yang saat ini cocok untuk budidaya kopi Arabika di Aceh dan Sumatra Utara pada 2050.

Menurut data Departemen Pertanian Amerika Serikat, Indonesia merupakan negara produsen kopi terbesar keempat di dunia. Pada musim panen 2024/2025, Indonesia memproduksi 10,7 juta karung kopi atau sekitar 642 juta kilogram kopi.

Sedangkan data Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai ekspor kopi dan produk turunannya mencapai US$2,68 miliar pada periode Januari-Oktober 2025, naik 46,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lead Coalition for Sustainable Livelihood (CSL) Edward Manihuruk mengatakan tantangan perubahan iklim semakin nyata bagi petani kopi. "Karena itu, dibutuhkan berbagai solusi yang tidak hanya menjaga produktivitas kopi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dan lingkungan," kata Edward dalam webinar Menjaga Kopi di Tengah Krisis Iklim, Rabu (24/6).

Salah satu pendekatan yang dinilai mampu menjawab tantangan tersebut adalah agroforestri kopi, yakni sistem budidaya yang mengombinasikan tanaman kopi dengan berbagai jenis pohon naungan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bener Meriah Alfahmi mengatakan agroforestri kopi tidak hanya menjadi sumber penghidupan masyarakat dan penggerak ekonomi daerah. Tapi, berperan juga menjaga fungsi lingkungan, antara lain mempertahankan tutupan lahan di daerah aliran sungai, menjaga ketersediaan air, serta mengurangi risiko longsor dan erosi.

"Bagi Kabupaten Bener Meriah, agroforestri kopi bukan hanya sistem budidaya, tetapi juga strategi pembangunan daerah yang mampu menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat ketahanan iklim, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan," ujarnya.

Direktur Eksekutif Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) Ade Aryani menilai penguatan ketahanan sektor kopi memerlukan kolaborasi berbagai pihak. "Mulai dari tata kelola dan perencanaan wilayah yang mendukung lanskap kopi, penguatan kapasitas dan insentif bagi petani, hingga komitmen sektor swasta mendorong produksi dan rantai pasok berkelanjutan," kata Ade.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas