Perkembangan Teknologi AI untuk Memburu Pembalak Liar

Rainforest Connection
Rainforest Connection menyebar perangkat teknologi untuk mendengarkan hutan, guna memburu pembalak liar. AI digunakan untuk membedakan suara alam dengan ancaman.
8/7/2026, 17.25 WIB

Merujuk pada data FAO, dunia kehilangan sekitar 81 juta hektare hutan primer sepanjang 1990-2020. Hutan primer merupakan kawasan hutan alami yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati paling kaya di bumi. Salah satu tantangan terbesar dalam melindungi kawasan tersebut adalah konversi lahan untuk berbagai aktivitas manusia, termasuk pembalakan liar.

Namun, perkembangan teknologi membuat praktik pembalakan liar sejatinya semakin sulit dilakukan. Sejumlah teknologi yang digabungkan dengan kecerdasan buatan (AI) telah dikembangkan di berbagai negara untuk mengawasi alam. Metodenya beragam dari menganalisis citra satelit hingga mendengarkan suara gergaji mesin.

Berikut beberapa contoh penerapan AI untuk mengawasi hutan.

Peru: Adetop Deteksi Penebangan Pohon Mencurigakan

Peru menjadi salah satu contoh terbaru. Badan pengawas kehutanan negara itu, OSINFOR, mengembangkan algoritma AI bernama Adetop yang menganalisis citra satelit Sentinel-2 milik European Space Agency dan Landsat milik NASA untuk mengidentifikasi pola penebangan pohon yang mencurigakan.

Menurut basis data kebijakan AI OECD, sepanjang 2024 hingga Juni 2025 sistem tersebut membantu mengidentifikasi 42 kasus pembalakan liar dengan total sekitar 23.351 meter kubik kayu yang ditebang tanpa izin. Temuan AI kemudian digunakan petugas untuk memfokuskan inspeksi lapangan ke lokasi yang terindikasi melanggar.

Brasil: AI Membantu Prediksi Pembalakan Berikutnya

Brasil menggunakan pemantauan satelit untuk mengawasi hutan Amazon. Namun, sebagian besar wilayah kerap tertutup awan sehingga citra satelit optik tidak selalu mampu memantau perubahan tutupan hutan.

Untuk mengatasinya, Brasil bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) mengembangkan sistem yang menggabungkan radar satelit Synthetic Aperture Radar (SAR) dengan AI. Berbeda dengan satelit optik, radar SAR tetap dapat memantau permukaan bumi meski tertutup awan atau hujan.

AI kemudian dilatih menggunakan data satelit dan rekam jejak pembalakan liar untuk memprediksi kawasan yang berisiko menjadi target penebangan berikutnya. Proyek yang berlangsung hingga 2026 itu kini memasuki tahap verifikasi agar hasil prediksinya dapat dimanfaatkan dalam operasi penegakan hukum.

Rainforest Connection Sebar Teknologi Penganalisis Suara untuk Buru Pembalak

Pendekatan berbeda dikembangkan Rainforest Connection (RFCx). Organisasi non-pemerintah di bidang konservasi lingkungan ini memasang perangkat perekam suara bertenaga surya di kawasan hutan yang bekerja selama 24 jam.

AI kemudian menganalisis suara yang terekam untuk membedakan suara alam dengan ancaman seperti gergaji mesin, aktivitas perburuan, kebakaran hutan, hingga penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. Jika mendeteksi suara yang mencurigakan, sistem langsung mengirimkan peringatan kepada petugas secara real time.

Berdasarkan laman proyek RFCx, teknologi ini telah digunakan pada proyek konservasi di 20 negara. Sebanyak 17 di antaranya merupakan proyek pemantauan hutan, termasuk di Sumatra, Indonesia.

Meski teknologi pengawasan terus berkembang, Pendiri Rainforest Connection, Topher White, pernah mengatakan bahwa kehadiran teknologi saja tidak cukup untuk menghentikan pembalakan liar. Saat perangkat mendeteksi aktivitas ilegal, tetap dibutuhkan sistem pendukung di lapangan yang mampu merespons.

Dengan kata lain, tantangan perlindungan hutan bukan sekadar mendeteksi pembalakan liar, tapi memastikan setiap informasi betul-betul ditindaklanjuti.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.