Surabaya Jadi Kota Paling Berpolusi Pagi Ini, Warga Diimbau Pakai Masker

ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nz
Suasana lanskap kota yang diselimuti polusi udara di Jakarta, Rabu (25/6/2025). Kementerian Lingkungan Hidup mencatat sejumlah penyebab pencemaran udara di Jabodetabek yaitu sebesar 42-57 persen dari emisi kendaraan bermotor, 14 persen dari emisi industri dengan bahan bakar batu bara, dan 9 persen dari pembakaran sampah terbuka ilegal, sehingga memerlukan pengawasan ketat dari pemerintah daerah untuk mengatasi masalah pencemaran udara tersebut.
27/7/2026, 08.27 WIB

Polusi udara di Surabaya, Tangerang Selatan, dan sejumlah wilayah lainnya menempati posisi terburuk nasional pada Senin (27/7) pagi. Berdasarkan pantauan situs IQAir pukul 07.22 WIB, poin AQI wilayah-wilayah itu berada di atas 150 dan termasuk dalam kategori tidak sehat.

Pada kualitas udara yang tidak sehat, masyarakat umum terutama kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, orang hamil, atau penderita penyakit jantung dan paru rentan mengalami efek kesehatan. 

"Ketika kualitas udara dikategorikan tidak sehat, masyarakat umum, terutama kelompok yang sensitif, mungkin mulai mengalami efek kesehatan,” demikian penjelasan IQAir, dikutip pada Senin (27/7). 

Dalam kondisi ini, IQAir menyarankan agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG juga beberapa kali mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker, khususnya jika berada di lokasi dengan tingkat pencemaran udara tinggi.

Berikut daftar lima wilayah di Indonesia dengan kualitas udara terburuk pagi ini:

  1. Surabaya, Jawa Timur, dengan poin AQI 186 atau dalam kategori tidak sehat,
  2. Tangerang Selatan, Banten, dengan poin AQI 181 atau dalam kategori tidak sehat,
  3. Jakarta, dengan poin AQI 179 atau dalam kategori tidak sehat,
  4. Pontianak, Kalimantan Barat, dengan poin AQI 177 atau dalam kategori tidak sehat,
  5. Tangerang, Banten, dengan poin AQI 158 atau dalam kategori tidak sehat.

Selain masuk di daftar nasional, polusi udara Jakarta bahkan memuncaki daftar kota besar paling berpolusi di dunia. Berikut daftar singkatnya:

  1. Jakarta, Indonesia, dengan poin AQI 179 atau dalam kategori tidak sehat,
  2. Lahore, Pakistan, dengan poin AQI 175 atau dalam kategori tidak sehat,
  3. Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, dengan poin AQI 166 atau dalam kategori tidak sehat,
  4. Kampala, Uganda, dengan poin AQI 152 atau dalam kategori tidak sehat,
  5. Doha, Qatar, dengan poin AQI 129 atau dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Sementara itu di Indonesia, kualitas udara paling sehat tercatat berada di Badung, Bali. Dengan poin AQI 59, kualitas udara Badung masuk kategori sedang. Begitu pula di Pekanbaru (Riau) dengan poin AQI 71 dan Medan (Sumatera Utara) dengan poin AQI 73. 

Adapun di lingkup global, kualitas udara paling sehat bahkan mencapai poin AQI 8 dan masuk kategori baik. Tepatnya di Dakar, Senegal. Kualitas udara serupa juga ditemui di sejumlah kota besar lainnya, seperti di Vancouver (Kanada) dengan poin AQI 12 dan Oslo (Norwegia) dengan poin AQI 13.

Indeks AQI adalah konsentrasi polutan udara yang menunjukkan kategori kualitas udara. Rumus indeks mempertimbangkan enam polutan utama, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Angka AQI keseluruhan pada waktu tertentu ditentukan oleh polutan paling berisiko dengan angka AQI paling tinggi. Indeks AQI berkisar dari 0 sampai 500 dengan pembagian enam kategori.

Kategori baik memiliki rentang skor AQI 0-50, kategori sedang memiliki rentang skor 51-100, dan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif berada pada rentang skor 101-150.

Sedangkan kategori tidak sehat dengan rentang skor AQI di angka 151-200, kategori sangat tidak sehat 200-299, dan kategori berbahaya pada rentang 300-500.

Kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Sementara itu, kualitas udara kategori berbahaya dapat merugikan kesehatan yang serius.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas