Di Tengah El Nino, Mengapa Sumatra Barat Justru Kebanjiran?

BPBD Kota Padang
Tim gabungan melakukan evakuasi warga yang terdampak banjir di sejumlah wilayah di Kota Padang pada Senin (3/8).
4/8/2026, 15.21 WIB

Ketika berbagai daerah di Tanah Air mengalami kekeringan, pesisir barat Sumatra justru diguyur hujan deras hingga banjir. Apa yang terjadi?

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisiko Teuku Faisal Fathani menjelaskan, Indonesia memiliki 699 zona musim. Ini lantaran lokasi daerah yang beragam: di lembah, pegunungan, dekat pesisir, dan sebagainya sehingga karakteristik iklimnya juga berbeda-beda.

Sedangkan El Nino yang menurunkan curah hujan banyak memengaruhi area selatan garis khatulistiwa, di antaranya di Nusa Tenggara, Bali, Jawa, Sumatra bagian selatan dan Papua bagian selatan. “Itu daerah yang paling terdampak El Nino,” kata Faisal saat konferensi pers di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Selasa (4/8). 

Dia menjelaskan, terdapat daerah di Indonesia yang mengalami satu musim dan tidak benar-benar mengalami kemarau. “Yaitu di bagian barat dari pegunungan Bukit Barisan itu satu musim. Dia tidak mengenal musim kemarau, karena saat kemarau pun hujannya masih lebih dari 150 mm per bulan, belum masuk syarat kemarau,” ujar Faisal. 

Kondisi serupa juga terjadi di sebagian Kalimantan dan sebagian besar Papua. “Bahkan, ada yang iklimnya berkebalikan, kita kemarau, di sana hujan, ini daerah Maluku,” ucap Faisal. 

Mengutip Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir melanda Kecamatan Kuranji, Kecamatan Koto Tangah, dan Kecamatan Bungus Teluk Kabung, di Kota Padang, pada Senin (3/8). Banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Padang sejak siang hingga sore hari. 

“Hingga Senin (3/8) malam, banjir di sejumlah titik masih belum surut dan hujan masih mengguyur sebagian wilayah terdampak,” demikian dikutip dari situs BNPB. Banjir juga diketahui melanda Kabupaten Agam dan Kabupaten Padang Pariaman. 

Di sisi lain, BNPB melaporkan puluhan daerah berstatus keadaan darurat kekeringan. Dalam rentang Januari sampai awal Agustus 2026, terdata 69 bencana kekeringan, melonjak 90 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dari 58 kabupaten yang mengalami kekeringan, 43 di antaranya berada di Pulau Jawa. 

Wilayah yang terdampak kekeringan paling masif adalah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan lebih dari 80 ribu warga terdampak. Berikutnya disusul Bekasi, Jawa Barat, dengan sekitar 50 ribu warga terdampak. 

Kekeringan di Pemalang, Jawa Tengah dan Makassar, Sulawesi Selatan juga berdampak masif. Total sekitar 40 ribu warga mengalami kekeringan di masing-masing kabupaten/kota tersebut. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas