Polusi Pontianak Sangat Buruk Pagi Ini, Hindari Aktivitas di Luar Ruangan

ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/tom.
Sejumlah warga berjalan di area Car Free Day yang diselimuti kabut asap di Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (9/8/2026).
19/8/2026, 08.23 WIB

Kota Pontianak di Kalimantan Barat kembali menempati posisi teratas dalam daftar wilayah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia pada Rabu (19/8) pagi. Dari pantauan situs IQAir pukul 07.56 WIB, kualitas udara Pontianak tergolong sangat tidak sehat dengan poin AQI 267.

Dalam kategori tersebut, semua orang rentan mengalami efek kesehatan. Oleh karena itu, IQAir menyarankan setiap orang untuk menghindari olahraga di luar ruangan, serta merekomendasikan penggunaan masker polusi di luar ruangan dan hanya keluar rumah jika diperlukan. Sedangkan pada kelompok sensitif, diminta untuk lebih waspada. 

"Kelompok yang sensitif seperti anak-anak, orang tua, ibu hamil, dan orang dengan penyakit jantung dari paru harus tetap berada di dalam ruangan dan membatasi aktivitas," demikian dikutip dari laman IQAir pada Rabu (19/8).

Penurunan kualitas udara Pontianak terjadi seiring terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Menurut data SiPongi Kementerian Kehutanan, sepanjang Januari-Juli 2026, luas karhutla di provinsi tersebut telah mencapai 38,3 ribu hektare. Angka tersebut bahkan melampaui total luas karhutla Kalimantan Barat sepanjang 2025 yaitu 26.703 hektare.

Selain Pontianak, beberapa wilayah lainnya juga tercatat memiliki kualitas udara buruk pagi ini. Berikut daftarnya:

  1. Pontianak, Kalimantan Barat, dengan poin AQI 267 atau dalam kategori sangat tidak sehat,
  2. Tangerang Selatan, Banten, dengan poin AQI 189 atau dalam kategori tidak sehat,
  3. Bandung, Jawa Barat, dengan poin AQI 182 atau dalam kategori tidak sehat,
  4. Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dengan poin AQI 164 atau dalam kategori tidak sehat,
  5. Jakarta, dengan poin AQI 160 atau dalam kategori tidak sehat.

Sementara itu, Medan di Sumatra Utara memiliki kualitas udara paling sehat pagi ini dengan poin AQI 39 dan masuk kategori baik. Di susul Semarang di Jawa Tengah dengan poin AQI 63, namun kualitas udaranya masih tergolong dalam kategori sedang. 

Di lingkup global, kota besar dengan kualitas udara paling sehat hanya mencatatkan poin AQI 10, tepatnya di Melbourne, Australia. Berikutnya, ada Oslo di Norwegia dengan poin AQI 15 dan Auckland di Selandia Baru dengan poin AQI 16. Kualitas udara ketiganya masuk kategori baik.

Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, sejumlah kota besar di dunia justru memiliki kualitas udara yang tergolong tidak sehat. Jakarta termasuk di dalamnya, berikut daftarnya:

  1. Delhi, India, dengan poin AQI 182 atau dalam kategori tidak sehat,
  2. Doha, Qatar, dengan poin AQI 161 atau dalam kategori tidak sehat,
  3. Jakarta, Indonesia, dengan poin AQI 160 atau dalam kategori tidak sehat,
  4. Kampala, Uganda, dengan poin AQI 156 atau dalam kategori tidak sehat,
  5. Kuching, Malaysia, dengan poin AQI 154 atau dalam kategori tidak sehat.

Indeks AQI adalah konsentrasi polutan udara yang menunjukkan kategori kualitas udara. Rumus indeks mempertimbangkan enam polutan utama, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon.

Angka AQI keseluruhan pada waktu tertentu ditentukan oleh polutan paling berisiko dengan angka AQI paling tinggi. Indeks AQI berkisar dari 0 sampai 500 dengan pembagian enam kategori.

Kategori baik memiliki rentang skor AQI 0-50, kategori sedang memiliki rentang skor 51-100, dan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif berada pada rentang skor 101-150.

Sementara itu, kategori tidak sehat dengan rentang skor AQI di angka 151-200, kategori sangat tidak sehat 200-299, dan kategori berbahaya pada rentang 300-500.

Kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Sementara itu, kualitas udara kategori berbahaya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi manusia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas