Misteri Suara Dentuman di Jawa Barat, Benarkah dari Anak Krakatau?

Kementerian ESDM
Gunung Anak Krakatau
7/9/2026, 12.31 WIB

Sumber suara dentuman yang terdengar warga di Jawa Barat pada akhir pekan lalu belum sepenuhnya terungkap. Badan Geologi menduga suara dan getaran tersebut berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, BMKG menilai kemungkinan itu kecil.

Pakar Vulkanologi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengatakan, untuk memastikan keterkaitan dentuman dan aktivitas Gunung Anak Krakatau, perlu kajian yang menggabungkan sejumlah data.

“Di antaranya adalah waktu terjadinya erupsi dan waktu kedatangan suara di berbagai wilayah, kondisi atmosfer saat kejadian, karakteristik sinyal suara, hingga data pengamatan dari sejumlah titik di Jawa bagian barat,” kata Mirzam, dalam keterangan resmi dikutip pada Senin (7/9).

Mirzam kemudian menyebutkan tentang acoustic shadow zone atau zona bayangan suara, sebagai salah satu hipotesis yang dapat digunakan untuk mengkaji insiden ini. 

Dia menjelaskan, suara tidak selalu merambat lurus dari sumber menuju penerimanya. Kondisi atmosfer dapat mengubah jalur rambat gelombang suara. Sebab itu, ada kemungkinan suara tidak terdengar jelas di wilayah yang dekat dengan sumber, tapi justru terdengar di wilayah yang jauh dari sumber. 

“Perubahan temperatur serta arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu, misalnya, dapat memengaruhi kecepatan rambat suara,” ujar Mirzam.

“Kondisi tersebut dapat membuat gelombang suara mengalami pembiasan atau dibelokkan ke atas,” ucapnya menambahkan.

Namun, ini tidak secara otomatis membuktikan bahwa suara yang didengar warga berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kondisi topografi atau morfologi wilayah dan keberadaan penghalang antara sumber suara dan penerimanya juga perlu diteliti.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai sumber dentuman tidak cukup dijawab hanya berdasarkan jarak geografis ataupun kesamaan waktu kejadian.

BMKG Ragukan Sumbernya Anak Krakatau 

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menduga dentuman dan getaran yang dirasakan warga di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai kemungkinan dentuman yang terdengar di Bandung Raya berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau relatif kecil.

Alasannya, saat kejadian angin bertiup dari timur ke barat. Kondisi tersebut membuat peluang gelombang suara merambat dari Anak Krakatau ke Jawa Barat, yang berada di sisi timur gunung, menjadi kecil.

Meski begitu, BMKG menemukan sejumlah anomali yang terjadi berdekatan dengan waktu dentuman. Pertama, anomali pada alat pemantau gempa (seismogram) di Pulau Sebesi, Lampung. Kedua, gangguan magnetik internal bumi di Sukabumi dan Serang pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari.

“Namun, BMKG menekankan bahwa seluruh temuan anomali ini belum dapat secara langsung dikaitkan sebagai penyebab pasti suara dentuman tersebut,” ujar Kepala Stasiun Geofisika Bandung Suaidi Ahadi. 

Dia juga memastikan dentuman bukan karena gempa bumi lokal. Data pemantauan kegempaan BMKG tidak menunjukkan adanya aktivitas seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya pada rentang waktu tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas