Jaga Pari Manta, Konservasi Indonesia Siapkan Manta Impact Bond Pertama di Dunia

Konservasi Indonesia
Konservasi Indonesia dan Conservation International tengah menyiapkan Manta Impact Bond untuk pembiayaan konservasi manta di perairan Indonesia timur. Skema pembiayaan tersebut ditargetkan bisa terlaksana pada 2029.
25/9/2026, 18.19 WIB

Konservasi Indonesia (KI) bersama Conservation International (CI) sedang menyiapkan Manta Impact Bond, instrumen pembiayaan berbasis hasil (outcomes-based financing) pertama di dunia untuk konservasi pari manta.

Sustainable Finance Manager Konservasi Indonesia Ruth Aprilia menjelaskan, Manta Impact Bond akan menggunakan mekanisme penggalangan dana awal (upfront capital) untuk membiayai kegiatan konservasi. Besaran dan sumber dana tersebut masih dalam tahap penilaian melalui kajian tapak dan konsultasi dengan pemangku kepentingan di dua lokasi prioritas, yakni Raja Ampat dan Flores Timur.

“Modal dari penyandang dana awal disalurkan melalui Manta Resilience Fund untuk mendanai perlindungan populasi dan habitat pari manta, sekaligus meningkatkan manfaat ekowisata bagi komunitas lokal dan masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan pari manta,” kata Ruth, dikutip dari keterangan resmi pada Jumat (25/9).

Penyandang dana awal baru akan menerima pengembalian pokok dan imbal hasil apabila target konservasi tercapai dan telah diverifikasi secara independen. Dengan mekanisme ini, pembiayaan tersedia sejak awal, sementara pembayaran kepada penyandang dana awal bergantung pada hasil konservasi yang terukur.

Saat ini, Manta Impact Bond masih berada dalam tahap perancangan yang akan berlangsung selama dua tahun dengan dukungan pendanaan dari bank pembangunan Prancis: Agence Française de Développement (AFD).

Tahap tersebut mencakup penilaian kondisi awal atau baseline, penyusunan strategi konservasi untuk 20 tahun ke depan, kajian kelayakan, konsultasi pemangku kepentingan, serta perancangan struktur Manta Impact Bond dan mekanisme pemantauan, pelaporan, serta verifikasi.

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata mengatakan rancangan instrumen tersebut disusun berdasarkan kajian ilmiah dan kebutuhan di tingkat tapak, khususnya untuk merespons tantangan konservasi pari manta di Raja Ampat.

Sejauh ini, telah teridentifikasi enam isu prioritas konservasi pari manta, yakni penangkapan ilegal, praktik wisata yang tidak bertanggung jawab, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, pencemaran sampah dan limbah, sedimentasi di habitat pari manta, serta risiko tertabrak kapal dan speedboat.

“Manta Impact Bond direncanakan mulai dilaksanakan pada awal 2029,” ujar Iqbal.

Ancaman bagi Pari Manta dan Perannya bagi Ekonomi Pesisir

Indonesia memegang peran penting dalam konservasi pari manta. Beberapa wilayah perairan termasuk Raja Ampat tercatat sebagai habitat utama pari manta. Penelitian mencatat populasi pari manta karang (Mobula alfredi) di kawasan Bird’s Head Seascape, yang mencakup Raja Ampat, sebagai salah satu populasi terbesar di dunia dan terbesar kedua yang dilaporkan dalam literatur setelah Maladewa.

Penangkapan menjadi salah satu ancaman bagi pari manta karang (Mobula alfredi) dan pari manta oseanik (Mobula birostris). Kedua spesies tersebut tumbuh dan bereproduksi secara lambat sehingga rentan terhadap tekanan eksploitasi. Penangkapan pari manta antara lain didorong oleh permintaan insang manta untuk bahan obat tradisional.

Kedua spesies ini dikategorikan rentan hingga terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Pemerintah Indonesia telah menetapkan perlindungan penuh terhadap keduanya sejak 2014.

Namun, perlindungan hukum tetap memerlukan dukungan pembiayaan berkelanjutan untuk memastikan pengawasan dan upaya konservasi berjalan di lapangan. Di Raja Ampat, penelitian menunjukkan populasi pari manta karang meningkat dalam periode pemantauan, meski keberlanjutan tren tersebut tetap bergantung pada perlindungan yang konsisten.

Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu mengatakan pari manta bukan sekadar bagian dari keanekaragaman hayati laut. “Keberadaannya memiliki nilai ekologis, pendidikan, penelitian, serta potensi ekonomi yang dapat mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan dan peningkatan manfaat bagi masyarakat lokal,” ujarnya.

Di sisi ekonomi, seekor pari manta diperkirakan dapat menghasilkan nilai hingga US$1 juta sepanjang hidupnya melalui pariwisata bahari. Nilai tersebut berasal dari aktivitas seperti menyelam, retribusi kawasan, serta perputaran ekonomi masyarakat pesisir.

Verifikasi Jadi Kunci Pembayaran

Akurasi pemantauan ilmiah menjadi bagian penting dalam menentukan apakah target konservasi telah tercapai. Lead Conservation Scientist Elasmobranch Institute Indonesia Edy Setyawan mengatakan data ilmiah diperlukan untuk mengukur pencapaian ekologis secara objektif.

“Integrasi data pemantauan populasi melalui photo-ID, pergerakan, dan kesehatan habitat penting untuk memverifikasi pencapaian ekologis serta memastikan kebijakan pengelolaan adaptif berbasis bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Edy.

Di tingkat pelaksana teknis, Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat Hasan Makassar mengatakan pihaknya siap mengawal implementasi program tersebut.

“Sebagai mandatori SUOP, kami berkomitmen memastikan setiap alokasi pendanaan berujung pada penguatan aksi nyata patroli pengawasan, pelestarian habitat, serta pendampingan masyarakat adat agar seluruh pemanfaat kawasan berpegang teguh pada prinsip berkelanjutan,” ujar Hasan.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas