YIARI: 53 Orangutan Dievakuasi di Kalbar, Terbanyak dari Konsesi First Resources

ANTARA FOTO/HO/YIARI/Muffidz Ma
Anggota tim medis dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan BKSDA Kalimantan Barat mengevakuasi orangutan jantan bernama Sempurna yang ditemukan dalam kondisi lemas di perkebunan sawit di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (30/8/2026).
22/10/2026, 18.34 WIB

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah mengevakuasi 53 orangutan korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, dan baru 15 individu yang dikembalikan ke alam liar. Sebagian besar yang dievakuasi dilaporkan berasal dari area perkebunan kelapa sawit konglomerasi sawit First Resources dan sekitarnya.

Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI, Heribertus Suciadi mengatakan, ruang aman di pusat rehabilitasi semakin penuh karena banyaknya orangutan yang perlu perawatan. “Kapasitas masih menjadi tantangan tersendiri untuk kami,” ujar dia kepada Katadata pada Rabu (21/10). Sebelumnya, YIARI sempat mengalami kekurangan dokter hewan hingga membuka lowongan relawan.

Saat ini, tim YIARI tengah menyiapkan rencana translokasi atau pemindahan orangutan hasil evakuasi ke habitat baru yang lebih aman. “Kemungkinan akhir bulan ini, tapi tim masih melakukan beberapa persiapan,” ucapnya.

Satwa liar yang membutuhkan evakuasi diperkirakan masih akan terus bertambah. Berdasarkan pengalaman kebakaran hutan besar 2019 dan 2015, evakuasi satwa liar berlangsung bahkan beberapa bulan setelah kebakaran reda.

Evakuasi Orangutan di Konsesi Grup First Resources 

Heribertus mengatakan, sebagian besar orangutan yang dievakuasi berasal dari dalam area perkebunan kelapa sawit milik PT KALE dan sekitarnya, termasuk area dengan nilai konservasi tinggi alias High Conservation Values atau HCV dalam konsesi perusahaan. PT KALE merujuk pada PT Kayung Agro Lestari, anak usaha PT Austindo Nusantara Jaya Tbk., yang lebih dari 90 persen sahamnya dimiliki Grup First Resources.

Grup usaha perkebunan kelapa sawit milik keluarga Fangiono ini terdaftar di bursa saham Singapura, dan memegang konsesi lebih dari 200 ribu hektare lahan di Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.

Perusahaan tengah menjadi sorotan publik setelah anak usaha atau afiliasinya masuk laporan Greenpeace soal perusahaan pemegang konsesi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan. Bursa saham Singapura, SGX, telah meminta keterangan grup tersebut atas aktivitas perusahaan dan keterkaitannya dengan kabut asap lintas negara. 

Menurut informasi yang diperoleh YIARI, masih banyak orangutan terjebak di HCV PT KALE yang mayoritas areanya dilaporkan terbakar. Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting menyayangkan ketidaksiapan perusahaan untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan. 

“Sejak awal, tidak ada kolaborasi maupun komunikasi dari pihak perusahaan dengan kami maupun Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar terkait keberadaan orangutan di kawasan konsesi,” kata Argitoe, dalam keterangan resmi.

Berdasarkan publikasi ilmiah pada 2016, kawasan HCV perusahaan ini menjadi rumah bagi sekitar 150 individu orangutan kalimantan. Secara keseluruhan, kawasan HCV ini memiliki rata-rata kerapatan sekitar 5,49 individu per kilometer persegi. Angka ini tergolong tinggi untuk ekosistem hutan rawa gambut, apalagi dengan kondisi habitat yang kian terbatas di luar konsesi.

Argitoe mengatakan, banyak satwa liar yang menjadi korban kebakaran dan asap, bukan hanya orangutan. “Kami sangat berharap perusahaan ini akan berkomitmen penuh untuk merestorasi area yang telah terbakar,” ujarnya

Di tengah porak-porandanya hutan, Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane meminta para pelaku usaha yang memiliki area HCV di konsesinya untuk memastikan area tersebut betul-betul berfungsi sebagai area perlindungan keanekaragaman hayati.

Porak-porandanya habitat membuat satwa liar yang tidak mengenal batas administrasi bergerak ke luar kawasan konservasi, seperti hutan lindung, hutan produksi, hingga area penggunaan lain.  

“Dengan menjaga koridor satwa, tidak mengonversi hutan yang telah diidentifikasi sebagai HCV, melaksanakan pengamanan secara berkala untuk mencegah aktivitas ilegal, penanaman pohon jenis lokal yang juga menjadi sumber pakan satwa, mencegah kebakaran hutan dan lahan, serta edukasi,” kata Murlan.

Sebagai informasi, orangutan Sempurna yang mati akibat paparan asap karhutla beberapa waktu lalu, ditemukan di Desa Kuala Satong yang hanya berjarak 1-2 kilometer dari konsesi PT KALE. 

Di HCV PT KALE pula, warga menemukan tengkorak diduga orangutan kalimantan yang kemudian dievakuasi BKSDA Kalbar bersama sejumlah lembaga termasuk YIARI pada 8 Oktober lalu. Sejauh ini, belum ada keterangan lanjutan mengenai penyebab kematian dan perkiraan waktu kematian orangutan tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas