Nikel Masif untuk Industri Baja, Masihkah Pemerintah Bidik Industri Baterai EV?
Megaproyek hilirisasi nikel Indonesia terus menuai sorotan. Salah satu penyebabnya: produk nikel yang dihasilkan lebih banyak untuk industri baja nirkarat bukan baterai kendaraan listrik sebagaimana ambisi awal.
Merespons hal ini, Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi Heldy Satrya Putera menjelaskan, pemerintah mendorong pemanfaatan nikel baik untuk baterai kendaraan listrik maupun industri baja nirkarat.
“Kami memang mau mendorong kedua itu. Hanya tadi, persoalannya adalah industrinya (baterai kendaraan listrik) masih di tahap awal. Kami berharap industri untuk yang selanjutnya, kami ingin nanti end product-nya sudah terbangun di Indonesia,” kata Heldy, saat ditemui di sela-sela Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia 2026, pada Kamis (5/11).
Heldy mengatakan bahwa kedua industri menggunakan jenis nikel yang berbeda, seraya ingin menjelaskan bahwa pasokan nikel untuk produksi baja nirkarat tidak akan memakan pasokan untuk baterai kendaraan listrik.
Menurut dia, kebijakan pemerintah melarang ekspor bijih nikel telah membuahkan investasi untuk industri baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik. Ke depan, pemerintah berharap industri baterai penyimpanan energi untuk pembangkit listrik tenaga surya juga bisa terbangun di dalam negeri.
“Jadi perkembangan hilirisasi dari mineral kritis Indonesia sudah sangat signifikan,” ujarnya.
CREA: 83 Persen Produk Nikel RI untuk Industri Baja Nirkarat
Berdasarkan analisis lembaga think tank Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) terhadap data industri yang terbuka untuk publik, hanya 17 persen produksi nikel Indonesia pada 2025 yang masuk rantai pasok kendaraan listrik. Sedangkan 83 persen lainnya diserap sektor baja nirkarat alias stainless steel.
Menurut organisasi riset independen itu, data tersebut menunjukkan ketidaksesuaian narasi pemasaran ‘nikel hijau’ Indonesia dengan permintaan pasar yang sebenarnya.
Di pasar global, baja nirkarat justru masih banyak digunakan sebagai komponen kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). CREA menilai, ini dapat menjauhkan Indonesia dari klaim nikel hijau.
Di sisi lain, hilirisasi nikel di Indonesia masih bergantung pada sumber energi dengan emisi tinggi seperti batu bara. Tanpa pemisahan industri nikel dari batu bara, menurut CREA, dekarbonisasi dan klaim nikel hijau Indonesia akan sulit diterima di pasar internasional.