Apa itu BRICS? Ini Manfaat dan Tantangan Indonesia Bergabung di BRICS

ANTARA
Apa itu BRICS?
Penulis: Anggi Mardiana
Editor: Safrezi
30/9/2025, 16.16 WIB

Indonesia resmi menjadi anggota BRICS pada 6 Januari 2025. Organisasi ini dikenal sebagai forum kerja sama internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia. 

Sebelumnya, rencana bergabungnya Indonesia ke BRICS disebut sebagai wujud nyata dari politik luar negeri bebas aktif. Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa langkah ini bukan berarti Indonesia memihak pada satu kubu, melainkan menunjukkan komitmen untuk ikut aktif di berbagai forum internasional.

Persetujuan mengenai pengumpulan baru Indonesia sebenarnya telah disetujui sejak KTT BRICS 2023 di Afrika Selatan. Kemudian, pada tahun 2025, Pemerintah Brasil secara resmi mengumumkan bahwa Indonesia telah menjadi anggota penuh dalam blok ekonomi BRICS.

Apa itu BRICS?

Presiden Prabowo menghadiri KTT BRICS (ANTARA FOTO/HO/Biro Pers-Muchlis jr/wpa/foc.)

Apa itu BRICS? BRICS merupakan kelompok negara yang menjalin strategi kemitraan dalam bidang pembangunan dan pengaruh global. Istilah BRICS berasal dari singkatan nama negara anggotanya, yaitu Brasil, Rusia, India, Tiongkok (Tiongkok), dan Afrika Selatan (Afrika Selatan).

BRICS juga termasuk dalam kelompok negara berkembang dengan peranan penting dalam perekonomian dunia. Saat ini, BRICS dipandang sebagai simbol kekuatan ekonomi baru yang hadir untuk menyeimbangkan dominasi Barat dalam sistem ekonomi global. 

Menurut BRICS Portal, gagasan pembentukan organisasi ini diprakarsai oleh Rusia. Pada tanggal 20 September 2006, diadakan Pertemuan Tingkat Menteri pertama BRICS di New York, atas inisiatif Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela Sidang Umum PBB. Dalam pertemuan tersebut, hadir para menteri luar negeri dari Rusia, Brasil, dan Tiongkok, serta Menteri Pertahanan India,

Kemudian, pada 16 Juni 2009, kota Yekaterinburg di Rusia menjadi tuan rumah KTT BRICS pertama. Dari pertemuan itu, para pemimpin negara anggota mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan tujuan BRICS, yaitu mendorong dialog dan kerja sama antarnegara secara bertahap, proaktif, pragmatis, terbuka, dan transparan. Sejak saat itu, kekuatan ekonomi BRICS terus tumbuh.

Indonesia resmi menjadi anggota BRICS pada 6 Januari 2025, sebuah langkah strategis untuk memperluas pengaruh di kancah internasional sekaligus mendiversifikasi mitra ekonominya. Namun, proses menjadi anggota penuh bukanlah hal yang sederhana. Indonesia dituntut untuk mampu memanfaatkan peluang, mengelola risiko, serta menghadapi dinamika politik dan ekonomi yang berkembang dalam lingkup BRICS (Sachs, JD, 2023, The Role of BRICS in Global Economic Governance, Cambridge University Press).

Negara-negara Anggota BRICS

Anggota negara-negara BRICS juga termasuk dalam berbagai organisasi dan lembaga internasional berpengaruh, seperti PBB, G20, Gerakan Non-Blok (GNB), dan Group of 77 (G77). Selain itu, masing-masing negara juga aktif dalam sejumlah asosiasi regional.

Awalnya, BRICS hanya beranggotakan lima negara, yaitu Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Namun, melalui KTT BRICS 2023 di Johannesburg, keanggotaan organisasi ini bertambah dengan masuknya Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) ke dalam BRICS+.

Manfaat Indonesia Sebagai Anggota BRICS

Manfaat Indonesia sebagai anggota BRICS semakin terlihat sejak bergabungnya Indonesia secara resmi pada 6 Januari 2025. Berikut manfaat Indonesia sebagai anggota BRICS:

1. Potensi Ekonomi 

BRICS mewakili lebih dari 3 miliar penduduk dunia, sehingga membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor. Komoditi unggulan nasional seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan tekstil berpotensi menjangkau jangkauan pasar yang lebih luas. Selain itu, dengan adanya New Development Bank (NDB), Indonesia memiliki akses terhadap pendanaan yang dapat dimanfaatkan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur strategis. Potensi kerja sama juga terbuka di bidang teknologi, khususnya untuk pengembangan sektor digital dan energi terbarukan. 

2. Diversifikasi Mitra Dagang

Terdapat peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas dan mendiversifikasi hubungan perdagangan internasional. Misalnya, kerja sama dengan India dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor tekstil dan informasi teknologi, sementara dengan Rusia, Indonesia berpotensi memperoleh akses terhadap teknologi pertahanan dengan biaya yang lebih terjangkau (O'Neill, J., 2001, Building Better Global Economic BRICs, Goldman Sachs Global Economics). 

Upaya diversifikasi ini diharapkan mampu menciptakan stabilitas perekonomian jangka panjang, menekan potensi risiko eksternal, serta membuka lebih banyak alternatif bagi pelaku usaha nasional.

3. Kekuatan Diplomasi

BRICS berfungsi sebagai wadah strategi bagi negara-negara berkembang dalam mendorong reformasi tata kelola ekonomi global. Melalui kebersamaannya, Indonesia mempunyai kesempatan untuk memperjuangkan sistem yang lebih inklusif, misalnya dalam hal distribusi hak suara yang lebih seimbang di lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia (Kementerian Luar Negeri Indonesia, 2024, Kebijakan Luar Negeri Indonesia: Arahan Strategis).

Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia juga dapat menghadirkan perspektif baru dalam BRICS yang berperan sebagai penyeimbang terhadap kebijakan ekonomi global, sekaligus memperkuat posisi diplomasi Indonesia di kancah internasional.

Tantangan Indonesia Bergabung Dalam BRICS

Tantangan Indonesia bergabung dalam BRICS tidaklah sederhana, meskipun keanggotaan ini menawarkan banyak peluang strategi di bidang ekonomi, investasi, dan diplomasi global. Sebagai anggota baru, Indonesia harus mampu beradaptasi dengan dinamika politik dan ekonomi antarnegara BRICS yang memiliki kepentingan berbeda-beda. Berikut tantangan Indonesia bergabung dalam BRICS:

1. Ketergantungan Pada China

Dalam BRICS, peran ekonomi Tiongkok sangat menonjol dengan kontribusi mencapai sekitar 70% dari total PDB kelompok tersebut (Yu, H., 2023, China's Dominance in BRICS: Risks for Emerging Economies, Journal of Economic Studies). Kondisi ini menimbulkan potensi risiko bagi Indonesia, terutama terkait kemungkinan adanya tekanan untuk mengikuti agenda geopolitik Tiongkok yang mungkin saja tidak sejalan dengan kepentingan nasional.

2. Tantangan Kompetisi

Sebagian besar negara anggota BRICS memiliki karakteristik ekonomi yang serupa. Misalnya, India, Brasil, dan Afrika Selatan dikenal sebagai eksportir komoditas utama seperti batu bara, minyak, dan produk pertanian. Bagi Indonesia, hal ini berarti adanya potensi persaingan tidak hanya di pasar global, tetapi juga di antara sesama anggota BRICS.

3. Ketidakstabilan Geopolitik

Bagi Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya, BRICS sering dipandang sebagai kekuatan penantang tatanan global yang ada. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi hubungan Indonesia dengan negara-negara Barat. Misalnya, Indonesia bisa saja terseret dalam dinamika seperti perang dagang atau ketegangan politik yang terjadi antara anggota BRICS dan negara-negara Barat.

Memahami apa itu BRICS, dapat terlihat bahwa organisasi ini bukan sekadar wadah kerja sama ekonomi negara-negara berkembang, tetapi juga simbol perubahan dalam tata ekonomi global. BRICS hadir sebagai penyeimbang dominasi Barat dengan menawarkan alternatif jalur kerja sama di bidang perdagangan, investasi, pembangunan infrastruktur, hingga teknologi. 

Bagi Indonesia, keterlibatan dalam BRICS menjadi peluang strategi untuk memperluas pasar, memperkuat diplomasi, sekaligus meningkatkan daya saing nasional di tengah persaingan ekonomi dunia yang semakin dinamis.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.