Tekanan geopolitik yang menurun seiring gencatan senjata Israel dan Iran mengubah fokus para pelaku pasar ke arah suku bunga dan kebijakan tarif. Sejumlah saham di sektor properti hingga pertambangan dinilai menarik untuk dipantau investor pekan ini.
Retail Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Indri Liftiany Travelin Yunus menilai, pergeseran fokus investor berpotensi membuka ruang bagi sektor perbankan dan properti untuk menggantikan dominasi sektor komoditas pada transaksi saham beberapa waktu ke depan.
“Fokus pasar mulai bergeser dari ketegangan di Timur Tengah ke arah kebijakan suku bunga dan tarif,” kata Indri dalam keterangan resmi, Senin (30/6).
Namun, menurut Indri, ada beberapa sentimen yang perlu dicermati investor pada pekan ini. Dari sisi global, ada potensi pelemahan pada indeks NBS Manufacturing PMI Cina untuk bulan Juni.
Ia memperkirakan indek ini akan turun tipis ke level 49,5 dari sebelumnya 49,7. Pelemahan ini disebabkan oleh dampak perang tarif dan tekanan deflasi.
Sementara itu, PMI ISM Manufacturing di Amerika Serikat untuk bulan yang sama diperkirakan meningkat terbatas ke level 48,8 dari 48,5. Data tenaga kerja AS, yakni Non-Farm Payrolls juga diproyeksi menurun ke 129.000 dari sebelumnya 139.000, sedangkan indeks S&P Global Composite PMI Final AS diperkirakan melemah ke 52,8 dari 53.
Dari dalam negeri, data PMI Manufaktur Indonesia diperkirakan akan meningkat ke 48,5 pada bulan Juni dari posisi sebelumnya 47,4. Neraca perdagangan Indonesia untuk Mei juga diprediksi tumbuh positif menjadi US$1 miliar dibanding bulan sebelumnya yang hanya US$0,15 miliar. Inflasi tahunan Indonesia juga diproyeksikan meningkat dari 1,6% menjadi 2,4%.
Dengan sejumlah kondisi tersebut, menurut Indri, ada sejumlah saham yang menarik untuk dipantau investor, di antaranya:
PT Ciputra Development Tbk (CTRA)
Indri menilai, saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) akan berada di area konsolidasi yang cukup kuat di level 955. Ia menyarankan investor melakukan pembelian di harga tersebut dengan target harga di Rp 1.015 dengan potensi kenaikan sekitar 6,28%.
Namun, jika harga turun ke Rp 920, ia menyarankan untuk melakukan aksi jual guna membatasi kerugian di kisaran 3,66%.
PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA)
Menjelang berakhirnya masa penundaan kebijakan tarif, kegiatan ekspor-impor dinilai akan meningkat dan ini akan berdampak positif bagi perusahaan logistik seperti ASSA.
Namun, ia menyarankan, strategi membeli saham dilakukan setelah terjadi koreksi (buy on pullback). Harga beli yang disarankan berada pada kisaran Rp 705–Rp 720, lebih rendah dari harga saat ini yaitu Rp 735. Jika harga naik ke Rp 780, potensi keuntungannya sekitar 10,64%, sementara jika turun ke Rp 685, kerugiannya bisa dibatasi di kisaran 2,84%.
“Jika ASSA mampu bertahan diatas level 725, maka ASSA berpotensi bergerak ke level 780,” ujarnya.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengalami kenaikan volume transaksi dan harga pada pekan lalu. Investor asing pun melakukan akumulasi beli pada saham ini.
Indri menyarankan investor membeli dengan harga saat ini Rp 8.525 per saham. Adapun target harga AMMN sebesar Rp 9.250 sehingga investor dapat meraup potensi keuntungan sebesar 8,5%.
Rekomendasi Saham Mirae Asset Sekuritas:
Rekomendasi saham juga dibagikan Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta. Ia menilai, kesepakatan dagang antara AS dan Cina yang ditandatangani di London pada Jumat lalu turut memperkuat sentimen pasar.
Kesepakatan ini memperlihatkan meredanya ketegangan perang dagang antara kedua negara, dengan AS memperoleh akses terhadap pasokan magnet dan mineral tanah jarang dari Cina yang sangat penting untuk industri mikrocip dan manufaktur. Berikut rekomendasinya:
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
Saham PANI menarik karena tengah mengakselerasi pembangunan Nusantara International Convention and Exhibition (NICE) yang dijadwalkan mulai beroperasi secara parsial pada Oktober 2025 dan sepenuhnya rampung pada 2026.
Dari sisi teknikal, menurut Nafan, PANI sedang membentuk pola bullish consolidation dengan golden cross pada MA20 dan MA60. Level support berada di Rp 10.800 dan target harga di Rp 11.950 dengan area akumulasi di kisaran Rp 11.400–11.700.
“Penjualan disarankan jika harga turun di bawah Rp 10.800,” kata Nafan.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)
Emiten ini mendapat sorotan setelah Danantara menyatakan akan mendanai proyek-proyek PGEO sebesar US$ 120 juta untuk pengembangan energi panas bumi hingga kapasitas 3 gigawatt.
Secara teknikal, PGEO dinilai memiliki risiko penurunan terbatas dan berpotensi membentuk pullback. Support terdekat berada di Rp 1.275 dan target harga di Rp1.365, dengan area beli antara Rp 1.275–1.335 dan penjualan di bawah Rp 1.185.
Sementara itu, PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) baru saja menyelesaikan proyek Bali International Hospital (BIH) di KEK Kesehatan Sanur, Bali senilai Rp 998,3 miliar. Saham ini dinilai sedang dalam fase pengujian resistance, dengan indikator stochastics menunjukkan sinyal positif.
“Support berada di Rp 404 dan target harga di Rp 452, sementara area beli yang disarankan berada pada kisaran Rp 418–428 dengan penjualan di bawah Rp 404,” ujarnya.