Laba Medco (MEDC) Longsor 81% Jadi Rp 613 M, Rugi Amman Mineral Jadi Biang Kerok

m.skalanews.com
Penjualan Medco Energi secara keseluruhan terpantau turun hingga 2,3% dari US$ 1,16 miliar pada semester I 2024 menjadi US$ 1,13 miliar atau Rp 18,76 triliun pada semester pertama 2025.
1/8/2025, 08.07 WIB

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencatatkan laba bersih pada semester pertama tahun ini US$ 37,18 juta atau Rp 613,29 miliar (asumsi kurs Rp 16.491 per dolar AS). Kinerja laba anjlok 81,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 200,99 juta atau Rp 3,31 triliun.

Manajemen Medco Energi menyampaikan anjloknya laba bersih MEDC terjadi akibat turunnya harga minyak, kontribusi negatif dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan biaya dry hole sebesar US$ 8,9 juta.

AMMN yang merupakan perusahaan patungan kongsi keluarga Panigoro dan grup Salim ini mencatatkan rugi operasional mencapai US$ 31 juta atau sekitar sekitar Rp 510,93 miliar sepanjang semester pertama 2025. Kondisi ini berbalik dibandingkan kinerja semester I 2024 yang masih mencatatkan laba operasional US$ 785,18 juta atau sekitar Rp 12,94 triliun. 

Rugi operasional AMMN disebabkan oleh keterlambatan proses commissioning smelter baru dan fasilitas pemurnian logam mulia. Penjualan bersih perusahaan tambang tembaga dan emas ini pun rontok hingga 88,2% dari periode yang sama tahun lalu.

Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan, AMMN mencatat pendapatan US$ 1,54 miliar atau Rp 25,50 triliun, menjadi US$ 182,59 juta atau Rp 300,67 miliar pada semester pertama 2025 ini. 

Meski demikian, CEO Medco Energi Roberto Lorato mengatakan, kinerja perusahaan pada paruh pertama tahun ini menunjukkan ketahanan finansial portofolio MED di tengah anjloknya harga minyak. 

“Kami memasuki paruh kedua 2025 dengan akuisisi atas tambahan 24% hak partisipasi di Wilayah Kerja (PSC) Corridor dan kontribusi tambahan dari beberapa proyek migas dan ketenagalistrikan yang baru berproduksi,” tulis Roberto dalam rilisnya, dikutip Jumat (1/8).

Adapun penjualan Medco Energi secara keseluruhan terpantau turun hingga 2,3% dari US$ 1,16 miliar pada semester I 2024 menjadi US$ 1,13 miliar atau Rp 18,76 triliun pada semester pertama 2025. Lalu EBITDA tercatat turun dari US$ 650 juta menjadi  US$ 623 juta.

Penurunan kinerja ini terjadi di tengah harga rata-rata realisasi minyak yang turun 14% dari US$ 81 menjadi US$ 70 per barel. Di sisi lain, harga rata-rata realisasi gas tetap stabil di kisaran US$ 7 per mmbtu.

MEDC juga mencatatkan realisasi belanja modal mencapai US$ 193 juta, yang sebagian besar dialokasikan untuk kegiatan pengeboran di Blok 60 Oman, pengembangan proyek di South Natuna Sea Block B dan Corridor, serta penyelesaian tahap pertama PLTP Ijen dan proyek PLTS Bali Timur melalui Medco Power.

Kinerja Operasional Medco

Medco mencatatkan produksi migas sebesar 143 mboepd turun 7% dibanding semester pertama 2024 dan sedikit di bawah target, terutama karena permintaan gas yang rendah secara musiman serta pemeliharaan di Senoro. Biaya produksi tercatat sebesar US$ 8,5/boe. 

Kemudian produksi diperkirakan meningkat di semester kedua 2025 seiring dengan beroperasinya proyek-proyek seperti Forel-Terubuk (Natuna), ekspansi LTR Corridor, pengembangan Senoro Fase 2, Suban, dan fasilitas Bisat-C.

Akuisisi 24% hak partisipasi Repsol di PSC Corridor rampung pada 28 Juli. Perusahaan juga menandatangani perjanjian pertukaran gas domestik pada Mei guna memperkuat pasokan di semester II. Penemuan cadangan baru di sumur West Kalabau-1 (Blok Rimau) ditargetkan mulai produksi pada 2026. Lalu survei seismik 3D di Rebonjaro dan Sumpal mendukung rencana pengembangan lanjutan.

Di sektor ketenagalistrikan, penjualan listrik tercatat 1.994 GWh, sedikit turun dari 2.003 GWh di 1H-2024 akibat pemeliharaan di Riau IPP, gempa di PLTP Sarulla, dan banjir di PLTS Sumbawa. Penurunan ini dikompensasi oleh beroperasinya PLTP Ijen tahap-I (35 MW) pada Februari dan PLTS Bali Timur (25 MWp) pada Juni, yang diresmikan oleh Presiden RI.

Amman Mineral Internasional

Medco melalui AMMN mencatatkan produksi tembaga mencapai 89 juta pon dan emas 60 ribu ons. Produksi katoda tembaga pertama dimulai pada Q1-2025 dan langsung diekspor pada April. Proses commissioning fasilitas pemurnian logam mulia dimulai pada Q2-2025 dan berhasil menghasilkan emas murni pertama pada pertengahan Juli 2025.

Setelah akuisisi Blok Corridor, Medco Energi menargetkan produksi minyak dan gas sebesar 155–160 mboepd, dengan biaya produksi tetap efisien di bawah US$ 10 per boe. Penjualan listrik diproyeksikan mencapai 4.300 GWh sepanjang tahun. Belanja modal dialokasikan sebesar US$ 400 juta untuk segmen migas dan US$ 30 juta untuk ketenagalistrikan.

“Kinerja kami pada paruh pertama tahun ini menunjukkan ketahanan strategi bisnis kami dan mencerminkan komitmen MedcoEnergi untuk memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham,” ucap Hilmi Panigoro, Direktur Utama.

.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila