Manuver Astra International (ASII) di Tengah Gempuran Mobil Listrik Cina
PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan penjualan mobil pada semester I 2025 turun hingga 13% menjadi 201.633 unit di tengah gempuran mobil-mobil listrik asal Cina. Meski demikian, raksasa otomotif ini masih optimistis terhadap pasar mobil konvensional di Tanah Air.
Kinerja bisnis otomotif yang lesu menjadi salah satu penyebab turunnya laba bersih ASII pada paruh pertama tahun ini sebesar 2,15% menjadi Rp 15,51 triliun. Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro menjelaskan, harga komoditas yang stabil di tengah lesunya pasar mobil domestik menjadi penyebab sedikit menurunnya laba ASII.
"Untuk sisa tahun ini, kami berharap bisa mempertahankan kinerja semester pertama. Tentunya kami tetap optimis dengan portfolio Astra yang ter-diversifikasi,” ucap Djony dalam Public Expose PT Astra International Tbk (ASII) secara virtual, Rabu (27/8).
Manuver Astra di Segmen Otomotif
Direktur Astra International Henry Tanoto menekankan, penetrasi mobil listrik di dalam negeri sebenarnya baru mencapai 10% Adapun hampir 90% pasar mobil listrik juga masih terkonsentrasi di Jakarta dan kota-kota besar. Selain itu, mayoritas pembeli mobil listrik merupakan pembeli mobil tambahan sehingga tidak terlalu memikirkan nilai jual kembali atau resale value.
Karena itu, ia masih optimistis dengan pasar industri mobil konvensional dan hybrid yang diproduksi ASII. Penjualan kedua segmen mobil itu masih mendominasi sekitar 90% pasar otomotif nasional dan tersebar lebih merata, baik di kota besar, kota kecil, maupun wilayah rural.
Adapun pihaknya saat ini telah mengantisipasi kebutuhan tersebut dengan menyediakan berbagai lini produk, mulai dari mobil ICE untuk segmen entry-level hingga kelas premium, kendaraan hybrid, plug-in hybrid, sampai BEV. Henry mengatakan Astra juga akan menambah jajaran produk dengan meluncurkan BEV Toyota bZ4X produksi lokal.
“Dan juga yang kedua adalah urban cruiser BEV yang harapannya dua-duanya bisa kami kenalkan di tahun ini,” kata Henry.
Menurut Henry, Astra terus melengkapi jajaran produknya dengan berbagai pilihan kendaraan ramah lingkungan. Salah satunya meluncurkan Rocky Hybrid dengan harga di bawah Rp 300 juta, yang melengkapi line-up hybrid Astra sebelumnya seperti Innova Zenith Hybrid dan Yaris Cross Hybrid. Ke depan, Astra juga sedang menyiapkan produk hybrid lain yang menyasar segmen pasar massal.
Selain produk menyebut layanan juga penting untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang bervariasi. Astra memiliki jaringan layanan yang luas, dari Sumatera hingga Papua, serta ekosistem pendukung seperti pembiayaan, asuransi, layanan purna jual, hingga program trade-in.
“Dan kami juga confident, kami bisa beradaptasi dengan cepat dan tumbuh di tengah transisi energi di dalam industri otomotif ini sehingga akhirnya kami harapkan bisa terus menjadi pilihan utama dari konsumen di Indonesia,” kata Henry.
Katalis Baru Bisnis ASII
Tak seluruh bisnis otomotif ASII turun pada paruh pertama tahun ini. Kinerja positif masih dicatatkan anak usaha ASII yang memproduksi suku cadang kendaraan roda dua dan roda empat, PT Astra Otoparts.
Berdasarkan bahan paparan public expose ASII yang dipublikasikan di laman BEI, kontribusi laba bersih dari 80% kepemilikan saham Astra Internasional di Astra Otoparts tercatat naik 11% menjadi Rp 751 miliar. Penjualan mobil bekas melalui OLXmobbi bahkan melesat 26% dari 11 ribu unit menjadi 15 ribu unit.
Bisnis-bisnis Astra lainnya, seperti di segmen finansial, agribisnis, infrastruktur, informasi teknologi, dan properti juga mencatatkan kinerja positif.
Pendapatan bersih dari divisi finansial ASII naik 6% menjadi Rp 4,4 triliun. Kenaikan laba bersih ini terutama dikontribusikan oleh pembiayaan konsumer di tengah kualitas kredit yang membaik.
ASII juga mencatatkan lonjakan kontribusi laba bersih dari divisi agribisnis mencapai 40% menjadi Rp 559 miliar Kontribusi ini diperoleh dari 79,7% kepemilikan ASII pada Astra Agro Lestari yang kinerjanya terdongkrak kenaikan harga sawit atau CPO.
Pendapatan ASII dari segmen infrastruktur, terutama di bisnis jalan tol. Astra mengelola delapan jalan tol, yang membentang sepanjang 396 km di jaringan Trans-Jawa dan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta.
Adapun segmen bisnis infrastruktur Astra mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 38% menjadi Rp 636 miliar pada semester I 2025, didorong oleh peningkatan volume lalu lintas dan kenaikan tarif. Rata-rata pendapatan harian jalan tol yang dikelola Grup Astra naik 8% menjadi Rp 20,4 miliar.
Kinerja positif lainnya datang dari divisi properti yang mencatatkan kenaikan kontribusi laba bersih mencapai 17% menjadi Rp 110 miliar. Kenaikan laba bersih ini terutama berasal dari aset gudang industri yang baru diakuisisi pada tingkat yang lebih rendah, peningkatan hunian di Menara Astra.