Bangkitnya Saham Konstruksi ADHI, PTPP hingga WSBP, Seperti Apa Kinerjanya?
Sejumlah emiten sektor konstruksi mencatatkan peningkatan harga saham sejak awal tahun. Meskipun sebagian besar emiten tersebut membukukan rugi dan penyusutan laba bersih pada semester pertama tahun ini, namun jumlah pinjaman baru yang didapatkan beberapa emiten menjadi katalis positif di tengah catatan rugi perseroan.
Penguatan harga saham sejumlah emiten sektor konstruksi terlihat dalam perdagangan Rabu (4/9). Saham emiten yang mengalami penguatan harga saham di antaranya PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT PP Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT)
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, harga saham ADHI menguat 2,24% atau 6 poin ke level 2,24. Kemudian PTPP naik 3,17% atau 12 poin ke level 390, WSBP melesat 7,14% aatu 2 poin ke level 30 dan WTON melonjak 10,75% atau 10 poin ke level 103.
Sementara perdagangan saham WSKT dan WIKA sedang diberhentikan sementara atau di suspend oleh bursa karena tersendat dalam membayar utang dan bunga obligasi. Bila menilik perkembangan harga saham emiten tersebut sejak awal tahun, hampir seluruh perusahaan tercatat naik.
Rincian kenaikan saham konstruksi:
- PT Adhi Karya Tbk (ADHI): naik 31,13% sejak awal tahun dari level 228 ke level 278
- PT PP Tbk (PTPP): naik 16,07% sejak awal tahun dari level 362 ke level 390
- PT Wijaya Karya Tbk (WIKA): turun 16,39% sejak awal tahun dari level 260 ke level 204
- PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP): naik 87,50% sejak awal tahun dari level 16 ke level 30
- PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON): naik 38,96% sejak awal tahun dari level 83 ke level 106
- PT Waskita Karya Tbk (WSKT): stagnan di level 202 sejak Mei 2023
Merujuk keterbukaan informasi yang disampaikan beberapa emiten konstruksi, di antaranya telah menyampaikan hasil kontrak yang didapatkan hingga Agustus 2025. Seperti PTPP yang telah mencatatkan raihan kontrak sejak awal tahun hingga Agustus 2025 mencapai Rp 14,78 triliun.
Sebelumnya, PTPP melaporkan telah meraih kontrak sejak Januari hingga Juli 2025 mencapai Rp 11,79 triliun. Capaian ini setara 41% dari target tahunan Rp 28 triliun.
Dari sisi sumber pendanaan, kontrak baru berasal dari 42,5% proyek swasta, 38,9% proyek BUMN dan 18,6% proyek pemerintah. Adapun berdasarkan segmentasi, kontribusi terbesar disumbang sektor pertambangan (24,4%), gedung (21,3%), pelabuhan (19,8%) serta jalan dan jembatan (19,3%).
Sementara itu, manajemen Adhi Karya dalam keterangannya menyebut, hingga kuartal kedua tahun 2025, ADHI telah memperoleh kontrak baru senilai Rp 3,5 trilliun. Perolehan kontrak baru didapat dari pekerjaan proyek gedung 41%, proyek infrastruktur 26%, proyek engineering & industri 18%, dan sisanya lainnya.
Bila ditinjau dari lini bisnis, perolehan kontrak ADHI masih didominasi 86% dari lini teknik (engineering) & konstruksi, 9% property & jasa pelayanan, 4% lini investasi & konsesi, dan sisanya lini manufaktur. Sedangkan jika diurai dari sumber pendanaan bersumber dari BUMN sebesar 58%, pemerintah 22% dan sisanya dari swasta dan lainnya.
Adapun manajemen WSBP dalam keterangannya menyebut, sejak Januari hingga akhir Juni 2025, perseroan mencatat Nilai Kontrak Baru (NKB) sebesar Rp 474 miliar sehingga Nilai Kontrak Dikelola (NKD) mencapai sekitar Rp 1,76 triliun yang akan menjadi sumber Pendapatan Usaha hingga akhir tahun.
Kendati demikian, perusahaan-perusahaan kontraktor milik negara ini masih membukukan rugi sepanjang paruh pertama 2025. Sebut saja, WIKA yang mencatatkan rugi pada semester pertama tahun 2025 sebesar Rp 1,66 triliun. Nilai ini berbalik posisi dari laba pada semester pertama tahun 2024 sebesar Rp 401,95 miliar.
Catatan rugi tersebut berasal dari koreksi pendapatan WIKA sebesar 22,31% menjadi Rp 5,85 triliun dari Rp 7,53 triliun secara yoy. Penurunan pendapatan berasal dari turunnya pendapatan di seluruh bisnis perseroan.
Sementara itu, PTPP membukukan laba bersih terkoreksi sebesar 55,61% menjadi Rp 65,24 miliar dari Rp 147 miliar pada periode yang sama tahun 2024. Penurunan laba sejalan dengan berkurangnya pendapatan usaha perseroan sebesar 23,77% menjadi Rp 6,70 triliun dari Rp 8,79 triliun secara tahunan atau year on year (yoy).
Adapun Adhi Karya (ADHI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 7,54 miliar hingga 30 Juni 2025, turun 45,24% dari Rp 13,77 miliar selama semester pertama 2024. Pendapatan usaha ADHI menurun sebesar 32,89% menjadi Rp 3,81 triliun dari Rp 5,68 triliun secara tahunan.
Daftar laba dan rugi emiten konstruksi sepanjang semester I 2025
| Emiten | Laba/Rugi H1/25 | Naik atau Turun (yoy) |
| PT Adhi Karya Tbk (ADHI) | Rp 7,54 miliar | (45,24) |
| PT PP Tbk (PTPP) | Rp 65,25 miliar | (55,61%) |
| PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) | (Rp 1,66 triliun) | (514,71%) |
| PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) | (Rp 236,88 miliar) | 49,44% |
| PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) | Rp 4,34 miliar | (75,745) |
| PT Waskita Karya Tbk (WSKT) | (Rp 2,14 triliun) | 0,4% |
(Sumber: Laporan keuangan semester I 2025 masing-masing emiten)
Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan target harga pada sejumlah emiten konstruksi. Seperti ADHI yang sedang bergerak menuju target di level 300-310, PTPP di Rp 416-430 dan WTON dengan target harga di Rp 123-130.