Medco Energi (MEDC) Siapkan Buyback Saham Rp 815 Miliar Saat Laba Anjlok 81%

Medco Energi
PT Medco Energi Tbk (Medco Energi) mendapatkan produksi minyak perdana dari blok migas di Thailand.
4/9/2025, 16.21 WIB

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) akan melaksanakan pembelian kembali saham atau buyback tahap II dengan nilai maksimal Rp 815 miliar. Jumlah tersebut setara dengan US$ 50 juta dengan asumsi kurs Rp 16.300 per dolar AS.

Manajemen Medco menyebut buyback ini akan dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu tiga bulan sejak pengumuman. Adapun jumlah saham yang akan dibeli kembali mencapai 407 juta lembar atau sekitar 1,62% dari modal ditempatkan.

Biaya yang dialokasikan mencakup transaksi, jasa perantara, dan biaya lain yang diperkirakan sebesar Rp 920 juta. Perseroan telah menunjuk PT BRI Danareksa Sekuritas, selaku perusahaan sekuritas yang ditunjuk untuk melakukan buyback melalui perdagangan di Bursa Efek Indonesia selama periode pembelian kembali saham tahap II perseroan.

Manajemen Medco menjelaskan, aksi korporasi ini merupakan strategi untuk meningkatkan nilai pemegang saham. Selain melalui pertumbuhan dan ekspansi bisnis, buyback juga diharapkan dapat memperbaiki kinerja keuangan, terutama Return on Equity (ROE), serta memberi fleksibilitas lebih dalam mengelola modal.

“Dengan mempertimbangkan pertumbuhan dan perluasan usaha, buyback tahap II juga akan memfasilitasi pengembalian kelebihan kas dan dana bagi pemegang saham dengan cara yang efektif dan efisien,” tulis manajemen MEDC dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (4/9). 

Berdasarkan data pemegang saham per 31 Agustus 2025, Medco saat ini memiliki 453,1 juta saham treasuri atau 1,8% dari modal ditempatkan dan disetor. Angka tersebut masih jauh di bawah batas maksimum 20% sesuai ketentuan POJK 13/2023 dan Surat S-17/D.04/2025, sehingga perusahaan masih memiliki ruang untuk melakukan buyback tambahan hingga sekitar 18,2% dari modal ditempatkan.

Laba Medco (MEDC) Longsor 81% Jadi Rp 613 Miliar

Aksi buyback yang dilakukan Medco terjadi saat kinerja perusahaan bergerak lambat. Pada semester I 2025, perusahaan  mencatatkan laba bersih pada semester pertama tahun ini US$ 37,18 juta atau Rp 613,29 miliar (asumsi kurs Rp 16.491 per dolar AS). Kinerja laba anjlok 81,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 200,99 juta atau Rp 3,31 triliun. 

Manajemen Medco Energi menyampaikan anjloknya laba bersih MEDC terjadi akibat turunnya harga minyak, kontribusi negatif dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan biaya dry hole sebesar US$ 8,9 juta. AMMN yang merupakan perusahaan patungan kongsi keluarga Panigoro dan grup Salim ini mencatatkan rugi operasional mencapai US$ 31 juta atau sekitar sekitar Rp 510,93 miliar sepanjang semester pertama 2025. 

Kondisi ini berbalik dibandingkan kinerja semester I 2024 yang masih mencatatkan laba operasional US$ 785,18 juta atau sekitar Rp 12,94 triliun.  

Rugi operasional AMMN disebabkan oleh keterlambatan proses commissioning smelter baru dan fasilitas pemurnian logam mulia. Penjualan bersih perusahaan tambang tembaga dan emas ini pun rontok hingga 88,2% dari periode yang sama tahun lalu. 

Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan, AMMN mencatat pendapatan US$ 1,54 miliar atau Rp 25,50 triliun, menjadi US$ 182,59 juta atau Rp 300,67 miliar pada semester pertama 2025 ini. 

Meski demikian, CEO Medco Energi Roberto Lorato mengatakan, kinerja perusahaan pada paruh pertama tahun ini menunjukkan ketahanan finansial portofolio MED di tengah anjloknya harga minyak.  

“Kami memasuki paruh kedua 2025 dengan akuisisi atas tambahan 24% hak partisipasi di Wilayah Kerja (PSC) Corridor dan kontribusi tambahan dari beberapa proyek migas dan ketenagalistrikan yang baru berproduksi,” tulis Roberto dalam rilisnya, dikutip Jumat (1/8).




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila