BBNI Targetkan Kredit Tumbuh hingga 10% Akhir 2025, Apa Saja Penopangnya?

bni.co.id
Ilustrasi, Menara BNI.
Penulis: Karunia Putri
11/9/2025, 06.15 WIB

Bank di bawah holding Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 8–10% hingga akhir 2025. Adapun sepanjang paruh pertama 2025, BNI mencatat pertumbuhan kredit sebesar 7% menjadi Rp 779 triliun dari Rp 727 triliun pada periode yang sama 2024.

“Jadi ini masih sedikit di bawah target kita,” kata Head of Investor Relations BNI, Yohan Setio dalam Public Expose Live 2025 yang dikutup Kamis (8/9). 

Yohan menyampaikan bahwa secara historis siklus pemberian kredit cenderung lebih berat di semester kedua, terutama kuartal keempat. Hal ini karena siklus modal kerja maupun investasi perusahaan umumnya terjadi menjelang akhir tahun. 

“Sehingga melihat tren sejauh ini, kami masih optimistis bahwa penyaluran kredit bisa mencapai target 8–10% pertumbuhan year on year,” ujarnya.

Terkait segmen yang menjadi kontributor utama, Yohan menjelaskan bahwa secara nilainya, segmen korporasi masih menjadi penyumbang terbesar. Lebih dari setengah basis kredit BNI memang berasal dari korporasi dan pihaknya memperkirakan segmen ini masih akan tumbuh sekitar 10%.

“Kami fokus di segmen korporasi blue chip. Korporasi blue chip biasanya lebih resilien, ekspansi bisnis dan siklus modal kerjanya lebih bisa diprediksi, serta tidak terlalu volatil terhadap kondisi ekonomi,” jelas Yohan.

Selain korporasi, BNI juga mulai melihat ruang pertumbuhan yang lebih merata. Jika sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan lebih bertumpu pada korporasi, tahun ini perseroan melihat potensi dari segmen UMKM dan segmen komersial atau perusahaan menengah. Setelah empat tahun berbenah, BNI yakin bisa kembali tumbuh di dua segmen ini, meski dengan pendekatan yang tidak terlalu agresif.

Sementara itu, segmen konsumer dinilai menjadi salah satu yang paling resilien. Tingkat utang rumah tangga di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara emerging market lain, sehingga permintaan kredit seperti KPR, kendaraan bermotor hingga personal loan tetap ada. Namun, target pertumbuhan untuk segmen konsumer juga tidak terlalu agresif.

“Kami menargetkan pertumbuhan sekitar 10% saja, mengingat kondisi ekonomi yang hanya tumbuh sekitar 5%. Jadi, kami tetap selektif dan mengedepankan aspek kehati-hatian dalam penyaluran kredit konsumer,” pungkas Yohan.

Kinerja Semster I 2025

Sepanjang semester I 2025, BNI mencatat laba bersih Rp 10,09 triliun, turun 5,6% dibandingkan Rp 10,7 triliun pada periode yang sama 2024. Penurunan laba terjadi meski kredit tumbuh 7,1% menjadi Rp 778,7 triliun.

Dari sisi pendapatan, bunga naik 4,5% menjadi Rp 33,61 triliun, sementara beban bunga juga meningkat dari Rp 13,01 triliun menjadi Rp 14,01 triliun. Pendapatan asuransi turun dari Rp 786 miliar menjadi Rp 343 miliar, sedangkan beban operasional naik dari Rp 6,9 triliun menjadi Rp 7,5 triliun, dipengaruhi kenaikan beban pencadangan dan turunnya keuntungan transaksi derivatif.

Pertumbuhan kredit masih ditopang korporasi yang naik 10,4% yoy menjadi Rp 435,8 triliun. Kredit konsumer juga tumbuh 10,7% menjadi Rp 147 triliun, didorong personal loan dan KPR. Sementara itu, kredit UMKM non-KUR meningkat 9,2% menjadi Rp 44,4 triliun, dan segmen komersial tumbuh 5,5%.

Kinerja anak usaha juga mencatat perbaikan, termasuk hibank yang fokus pada pembiayaan UKM, dengan lonjakan kredit 31% dan rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah 1%. Secara keseluruhan, NPL BNI turun menjadi 1,9% dan Loan at Risk (LAR) membaik ke 11%.

BNI mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 16,5% yoy menjadi Rp 900 triliun, didorong pertumbuhan dana murah (CASA) 18,7% menjadi Rp 647,6 triliun. Rasio CASA meningkat dari 70,7% menjadi 72%.

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) naik menjadi 21,1%. Sementara itu, Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 86,2% dan rasio likuiditas LCR serta NSFR masing-masing mencapai 144,2% dan 143%.

Wakil Direktur Utama BNI Alexandra Askandar mengatakan, penguatan dana murah dan perbaikan kualitas aset menjadi kunci ekspansi kredit ke depan. 

“Fokus kami tetap pada sektor produktif seperti pertanian, industri makanan dan minuman, telekomunikasi, infrastruktur, perumahan, hilirisasi energi, dan UMKM,” ujarnya.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri