Danantara Masih Cari Mitra Garap Proyek Waste to Energy, Apa Kabar OASA?
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara masih mencari mitra yang sesuai untuk berinvestasi dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy (PSEL). Proyek yang ditargetkan meluncur pada Oktober ini membutuhkan investasi Rp 2-3 triliun per titik lokasi.
Managing Director Investment Danantara Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan, proyek PSEL merupakan kolaborasi antara Danantara, pemerintah daerah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Melalui proyek tersebut, sampah akan diolah menjadi energi terbarukan berupa listrik yang akan dibeli oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
“Salah satu peran Danantara adalah memilih mitra dan teknologi yang tepat, lalu berinvestasi bersama-sama membangun PSEL ini,” kata Stefanus usai Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Nasional Menjadi Energi di Wisma Danantara, Jakarta, Selasa (30/9).
Stefanus menyebut, dalam beberapa bulan terakhir pihaknya sudah melakukan berbagai persiapan, termasuk benchmarking terhadap teknologi di berbagai negara. Salah satu teknologi yang paling banyak digunakan adalah incinerator, yakni metode pembakaran sampah untuk menghasilkan energi.
Saat ini, Danantara telah mengidentifikasi 33 titik di berbagai wilayah di Indonesia yang akan digunakan sebagai tempat pembangunan PSEL. Adapun investasi untuk setiap titik lokasi mencapai Rp 2–3 triliun, termasuk untuk infrastruktur pendukung.
Danantara memastikan akan menggelar tender secara terbuka, baik dari swasta, pihak asing, pemerintah maupun BUMD. Pemilihan mitra akan dilakukan setelah lokasi pembangunan PSEL rampung dan siap dijalankan.
“Pada akhirnya, kami akan melakukan pemilihan, mana teknologi atau partner yang paling tepat dan paling optimal. Karena tujuannya adalah bukan sekedar mencari untung, tapi yang lebih penting adalah tadi, melakukan pembersihan lingkungan, mengurangi masalah darurat sampah,” ujarnya.
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) sebelumnya memberikan sinyal terlibat dalam proyek waste to energy yang tengah digarap Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara. Sinyal ini tertangkap saat akun resmi Instagram OASA berkomentar pada unggahan terkait proyek Waste to Energy di akun Instagram Danantara.
“Tangerang Selatan dan Jakarta Barat,” kata Maharaksa Biru Energi dalam komentar media sosial instagram Danantara terkait Waste-to-Energy (WtE), Selasa (16/7).
OASA juga tengah berencana melaksanakan aksi korporasi berupa Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Dari aksi ini, OASA akan mengembangkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tangerang Selatan dengan menjual listrik ke PT. PLN berkapasitas 19,6 MW.
Adapun nilai investasi dari aksi korporasi ini mencapai Rp 2,65 triliun. Harga saham OASA telah naik lebih dari 20% di tengah kabar masuknya perusahaan di proyek Waste to Energy Danantara. Namun, perusahaan belum mengkonfirmasi kabar tersebut.
Manfaat Proyek Waste to Energy
Sementara itu, Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani dalam kata sambutan di Rapat Koordinasi Nasional Pengolahan Sampah Menjadi Energi (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) bahwa, proyek waste to energy akan memberi manfaat besar bagi Indonesia. Selain menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 50–80% dibandingkan dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan menghemat hingga 90% lahan TPA, proyek ini juga mampu menghasilkan energi terbarukan.
Rosan menjelaskan, proyek ini dapat menghapus kewajiban tipping fee atau biaya yang biasanya ditanggung pemerintah daerah saat mengirim sampah ke TPA. Sebab, sampah-sampah di 33 titik akan langsung diproses agar menjadi energi listrik dan
Ia mencontohkan, 1.000 ton sampah dapat menghasilkan 15 megawatt listrik yang mampu memenuhi kebutuhan lebih dari 20.000 rumah tangga.