Siasat TINS Kejar Target Produksi di Tengah Lonjakan Harga Timah

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/tom.
Pekerja melakukan peleburan timah di Divisi Pengolahan dan Peleburan Unit Metalurgi PT Timah Tbk di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti
16/10/2025, 12.14 WIB

Harga saham PT Timah Tbk (TINS) sempat melesat hingga  disuspensi Bursa Efek Indonesia pada 6 Oktober 2025. Emiten tambang plat merah ini kini tengah berupaya mengejar target produksi yang dipatok mencapai 21.500 ton pada akhir tahun. 

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Timah Fina Eliani mengatakan, emiten yang tergabung dalam holding MIND ID ini telah memproduksi 12.197 ton logam timah hingga September 2025. “Di tiga bulan terakhir ini, perusahaan sedang berusaha semaksimal mungkin meningkatkan volume produksi,” kata Fina dalam paparan publik yang digelar perseroan secara virtual pada Rabu (15/10).

Fina memaparkan, salah satu langkah perseroan untuk mengejar target tersebut dengan membuka lokasi tambang baru. Perusahaan berencana membuka area tambang Beriga dengan potensi 4.000 ton, tambang Rias sebesar 2.297 ton, dan Laut Oliver dengan estimasi 38.900 ton logam timah.

“Tentu saja dari kegiatan ini, akan mencapai target produksi yang lebih tinggi di tiga bulan terakhir ini,” ujarnya.

Perusahaan juga telah mulai merancang target produksi untuk tahun 2026 hingga 2027. Rancangan ini, menurut dia, melibatkan pemerintah dan para pemegang saham. Adapun Timah menargetkan produksi bijih timah yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. 

Kinerja TINS Sepanjang Semester Pertama 2025

TINS pada paruh pertama tahun ini mencatat penurunan laba bersih sebesar 30,93%, menjadi Rp 300,06 miliar dari Rp 434,46 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Penurunan laba tersebut dimotori oleh penyusutan pendapatan perseroan sebesar 19,19% menjadi Rp 4,21 triliun dari Rp 5,21 triliun secara yoy. Perseroan menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp 3,37 triliun dari Rp 3,99 triliun dalam periode yang sama secara tahunan. 

Pendapatan perseroan berasal dari berbagai lini bisnis. Usaha logam timah berkontribusi sebesar Rp 3,21 triliun, tin chemical Rp 473,50 miliar, tin solder sebesar Rp 170,78 miliar, batu bara sebesar Rp 122,90 miliar, nikel sebesar Rp 101,98 miliar dan real estate sebesar Rp 78,31 miliar. 

Kemudian ada jasa galangan kapal sebesar Rp 39,15 miliar, jasa pengangkutan senilai Rp 17,83 miliar dan pendapatan lain-lain sebesar Rp 588 juta.

Meski demikian, harga sahamnya tercatat naik hingga 156% dalam sebulan terakhir. Sekretaris Perusahaan Timah, Rendi Kurniawan menjelaskan, kenaikan harga saham TINS seiring meningkatnya harga logam global.

Harga timah global hingga September 2025 rata-rata meningkat sekitar 12,81% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sedangkan Harga rata-rata pada 3 bulan juga naik 12,5% menjadi US$ 32.169 MT.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri