Mengapa Asing Lego Saham Konglomerat Saat IHSG Turun 3%? Ada BUMI, ARCI dan LPKR

Katadata/Fauza Syahputra
Pengunjung memotret layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (19/9/2025).
Penulis: Karunia Putri
17/10/2025, 15.44 WIB

Sejumlah analis memberikan pandangannya terkait anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (17/10). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terperosok 2,56% atau turun 207,81 poin ke level 7.916 secara intraday pada pukul 15.00 WIB.

Pada perdagangan pukul 14.45 WIB, IHSG sempat menyentuh titik 7.860 turun di kisaran 3%. Analis menyebut aksi jual pada sejumlah saham konglomerasi jadi tekanan bagi IHSG.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menilai, dalam beberapa hari terakhir pergerakan IHSG berada di fase awal tren penurunan (downtrend), sehingga potensi koreksi lanjutan masih terbuka.

“Kami mencermati bahwa dari emiten-emiten konglomerasi membebani laju IHSG,” ujar Herditya saat dihubungi, Jumat (17/10).

Ia menambahkan, turunnya harga saham emiten konglomerasi besar Tanah Air tergolong wajar, mengingat sebelumnya telah mengalami kenaikan signifikan yang sempat mendorong IHSG ke kisaran level 8.200 an.

Berdasarkan data perdagangan BEI sesi pertama hari ini, investor asing tercatat melakukan aksi jual sebesar Rp 3,42 triliun. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) paling banyak dijual asing dengan volume saham yang dilepas mencapai 134 juta kali dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dijual sebanyak 74 juta kali. 

Sementara itu, pengamat pasar modal Indonesia Reydi Octa berpendapat, tekanan terhadap IHSG disebabkan oleh kombinasi aksi jual pada saham-saham konglomerasi serta saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Astra International Tbk (ASII).

Sama seperti heredity, Reydi memandang, kondisi ini membuat IHSG kehilangan tumpuannya sehingga anjlok. Kendati demikian, ia memandang hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar.

“Koreksi ini masih tergolong wajar, pasar sedang menyesuaikan diri setelah reli panjang, dan justru membeli peluang untuk investor beralih ke saham dengan fundamental solid lagi,” kata Reydi.

Menurutnya, kondisi saat ini justru dapat menjadi peluang bagi investor untuk kembali melirik saham-saham dengan fundamental solid. Kata dia, momentum kenaikan indeks belum tentu berakhir. Meski IHSG kehilangan momentum jangka pendek, peluang rebound teknikal masih terbuka jika aliran dana asing kembali masuk dan tekanan pada saham konglomerasi mulai mereda.

Tunggu Gerak IHSG Stabil

Tim Riset Phintraco Sekuritas menyarankan agar investor mempertimbangkan untuk menunggu pergerakan lebih lanjut dari IHSG. “Pertimbangkan untuk tetap wait and see less aggressive terlebih dahulu hingga terdapat indikasi rebound yang lebih solid,” kata dia.

Sama seperti kedua analis lainnya, Phintraco Sekuritas menyebut, jatuhnya IHSG disebabkan oleh tekanan jual pada emiten-emiten konglomerasi.

Satu pekan terakhir, investor asing masif melakukan aksi jual pada saham-saham Tanah Air. Hal yang menarik adalah, saham-saham dengan fundamental kuat seperti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), yang dikenal sebagai penopang indeks justru ramai dibuang. 

Tim riset Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer menilai, alasan investor asing melepas saham bank jumbo tersebut cukup kompleks, bukan hanya karena fundamentalnya. Menurutnya, investor asing melepas saham BBCA dan BBRI karena ada sentimen global dan alokasi ulang portofolio mereka.  

“Dari pandangan kami investor institusi tampaknya memperhitungkan risiko makro seperti suku bunga global, kurs, likuiditas, dan ketidakpastian ekonomi global sebagai pemicu untuk mendistribusikan risiko,” kata Mifta kepada Katadata.co.id pada Rabu (15/10).  

Lebih lanjut, dia menjelaskan, pasar cenderung beralih ke saham-saham yang punya momentum yang lebih bullish seperti saham komoditas.  

Kiwoom Sekuritas memperkirakan, fase aksi jual ini akan bertahan sampai ada katalis baru yang akan meredakan. Katalis tersebut bisa berasal dari kebijakan moneter global yang lebih jelas, data ekonomi positif di Amerika Serikat, menurunnya tensi perang dagang, ataupun stimulus domestik yang mulai berdampak pada kinerja bank-bank besar. 

“Begitu ada sinyal pemulihan kemungkinan besar aliran modal asing bisa kembali ke negara-negara emerging market,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri