Anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada hari ini, Jumat (24/10). RUPSLB menyetujui rights issue atau rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) sebanyak 124,26 miliar lembar saham Seri B dengan nominal Rp 25 per saham.
Melalui aksi ini, GMFI akan menerima penyetoran modal non-tunai (inbreng) dari PT Angkasa Pura Indonesia (API) berupa lahan seluas 972.123 meter persegi di kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.Aset tersebut mencakup area operasional utama Hanggar 1 hingga Hanggar 4, dengan nilai mencapai Rp 5,66 triliun.
Setelah aksi korporasi rampung, Angkasa Pura Indonesia akan menggenggam saham GMFI dengan porsi 70%.
Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi menjelaskan, langkah ini merupakan tahap penting dalam proses transformasi menyeluruh GMFI. Menurutnya, aksi korporasi ini tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga menjadi pondasi strategis agar GMFI dapat beroperasi lebih lincah, efisien, dan berkelanjutan ke depan.
“Dengan memiliki aset strategis dan struktur permodalan yang lebih kuat, GMFI siap memperluas kapasitas bisnis, memperkuat kemandirian operasional, serta memperkokoh posisinya sebagai MRO terintegrasi yang andal di tingkat global,” ujar Andi dalam paparan publik secara virtual, Jumat (24/10).
Selain itu, Andi juga menyebut pengendali utama GMFI akan tetap berada di bawah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Ia menjelaskan, langkah korporasi ini merupakan bagian strategis dari upaya memperkuat struktur permodalan dan fundamental keuangan GMFI.
Dengan penyertaan modal dari Angkasa Pura Indonesia, ekuitas GMFI diproyeksikan berbalik positif, dari sebelumnya minus US$ 248,99 juta menjadi positif US$ 102,87 juta. Menurut Andi, penyertaan modal dari API ini merupakan bagian dari program restrukturisasi Garuda Indonesia yang telah disetujui oleh Pemerintah. Langkah ini juga menegaskan adanya integrasi strategis antara GMFI dan ekosistem aviasi nasional di bawah naungan Angkasa Pura Indonesia.
Adapun hingga akhir September 2025, GMFI sudah mencapai target pendapatan sekitar US$ 307,13 juta atau sekitar Rp 5,09 triliun. “Di mana itu sudah lebih dari 100% target pada September. Kalau dibandingkan dengan akhir tahun, itu sudah sekitar 75% target,” ucapnya.
Perusahaan juga berhasil mencatatkan laba bersih mencapai US$ 20 juta atau Rp 332,08 miliar hingga September 2025. Realisasi ini hampir mendekati target akhir tahun 2025 sebesar US$ 27 juta atau Rp 448,26 miliar.
Ia mengatakan tantangan saat ini masih sama seperti tahun sebelumnya, yakni terkait gangguan rantai pasok (supply chain). Saat ini, terjadi reaktivasi besar-besaran di sektor aviasi global, yang menyebabkan kelangkaan material dan suku cadang (spare parts).