PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 288,17 atau setara Rp 4,78 triliun hingga kuartal ketiga 2025. Angka itu turun 14% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar US$ 336 juta atau sekitar Rp 5,59 triliun pada 2024.
Segmen pengelolaan limbah atau waste to energy (WtE) menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan TOBA, dengan porsi sekitar 39% dari total pendapatan. Jumlah ini melonjak 1.048% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain itu, bisnis kendaraan listrik dan energi terbarukan juga terus mencatat pertumbuhan positif dalam portofolio non-batubara.
Direktur TBS Energi Utama Juli Oktarina menyatakan bahwa 2025 menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk memperkuat fondasi bisnis hijau. Selain itu kinerja TBS tetap tangguh meskipun dihadapkan pada fluktuasi harga batu bara.
“EBITDA kami tetap kuat, terutama berkat kontribusi segmen pengelolaan limbah dan kendaraan listrik. Ini menunjukkan bahwa portofolio hijau TBS tidak hanya tumbuh, tetapi juga semakin matang secara operasional,” kata Juli dalam paparan kinerja kuartal III 2025, Selasa (28/10).
Di samping itu TOBA membukukan rugi bersih sebesar US$ 127,37 juta atau sekitar Rp 2,12 triliun. Kerugian ini terutama disebabkan oleh rugi non-tunai yang bersifat satu kali (non-recurring), berasal dari divestasi dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta biaya akuisisi bisnis hijau.
Manajemen mengatakan hasil penjualan dua PLTU tersebut memberikan tambahan dana untuk memperkuat ekspansi TBS di sektor energi berkelanjutan. Apabila dampak transaksi satu kali itu serta penurunan harga batu bara dikecualikan, TBS sebenarnya masih mencatat laba sekitar US$ 1,8 juta atau Rp 29,89 miliiar.
Kinerja usaha yang dibukukan TOBA sejalan dengan perolehan adjusted EBITDA sebesar US$ 31,8 juta atau Rp 528 miliar. Manajemen menyatakan nilai ini mencerminkan efisiensi operasional serta kemajuan nyata dalam transformasi TBS menuju bisnis hijau.
Hingga kuartal ketiga 2025, posisi kas TOBA mencapai US$ 89 juta, meningkat dari US$ 68 juta pada akhir 2024. Kenaikan tersebut didorong oleh hasil divestasi serta penerbitan Sukuk Wakalah dan Obligasi Berkelanjutan I Tahun 2025.
Prospek dan Tonggak Penting Kinerja TOBA
Salah satu pencapaian penting TBS pada paruh kedua 2025 adalah peluncuran identitas baru CORA Environment, yang menggantikan Sembcorp Environment di Singapura. Melalui CORA, TBS memperluas waste-to-energy di tingkat regional sekaligus mempercepat transfer teknologi ke Indonesia.
CORA kini menjalankan layanan pengumpulan, daur ulang, insinerasi, dan pemulihan sumber daya berbasis digital untuk meningkatkan efisiensi dan kepatuhan lingkungan. Dalam lima tahun ke depan, CORA menyiapkan investasi lebih dari S$200 juta atau sekitar Rp 2,56 triliun.
Manajemen TOBA berkeyakinan pencapaian itu memperkuat jaringan pengelolaan limbah, termasuk pembangunan infrastruktur daur ulang yang ditargetkan selesai pada 2026. Selain itu manajemen mengatakan bisnis pengelolaan limbah TBS yang dimulai sejak 2018 menunjukkan hasil positif, terutama setelah ekspansi ke pasar Singapura.
Torehan ini menjadi modal penting bagi TBS untuk memperluas jangkauan ke negara-negara Asia Tenggara lain seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia, dengan fokus pada pengembangan infrastruktur waste-to-energy, daur ulang, serta kerja sama lintas kebijakan lingkungan.
Di sisi lain, bisnis Electrum TOBA juga harus memperluas ekosistem transportasi rendah emisi. Hingga September 2025 lebih dari 6.400 motor listrik yang beroperasi dengan dukungan 360 stasiun penukaran baterai (BSS), naik 25% dibandingkan semester sebelumnya.
Fasilitas ini telah melayani lebih dari 850 ribu transaksi penukaran baterai per bulan, hingga mengurangi emisi karbon lebih dari 25 ton CO2 per hari dan menekan biaya operasional mitra pengemudi.
Sementara itu, di pilar energi terbarukan, PLTMH Sumber Jaya (6 MW) yang mulai beroperasi awal 2025 berkontribusi stabil terhadap bauran energi bersih TBS. Proyek PLTS Terapung Tembesi di Batam yang dikerjakan bersama PLN Nusantara Power juga menunjukkan kemajuan konstruksi yang signifikan dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada pertengahan 2026.