Grup Bakrie menggelar ekspansi besar-besaran melalui dua emitennya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dengan menggalang dana hingga Rp 9 triliun lewat penerbitan obligasi. 

BUMI membuka Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I BUMI dengan target dana hingga Rp 5 triliun. Perseroan telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap I senilai Rp 350 miliar dan Tahap II senilai Rp 721,61 miliar. Kemudian BUMI berencana meluncurkan Tahap III sebesar Rp 780 miliar pada tahun 2025. 

Perusahaan kini tengah proses untuk mengakuisisi tambang emas tahap produksi Jubilee Metals Limited (JML) di Australia. Selain itu, perusahaan kini juga menggenggam 45% saham PT Laman Mining, perusahaan tambang bauksit di Kalimantan Barat. Lalu BUMI juga telah merampungkan akuisisi 100% saham Wolfram Limited (WFL), perusahaan tambang emas raksasa berbasis Australia. 

Adapun dana penerbitan obligasi sebesar AU$ 31,47 juta (sekitar Rp340,88 miliar) akan digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis dan memenuhi sebagian kewajiban pembayaran kepada Jubilee Metals Limited (JML). Perusahaan tersebut akan menerbitkan 3.312.632 saham baru,  yang seluruhnya akan diambil bagian oleh BUMI. 

Total harga akuisisi JML diperkirakan mencapai AU$ 52 juta (sekitar Rp563,26 miliar). Adapun BUMI telah menyelesaikan pembayaran sebagiannya, yakni senilai AU$ 20,53 juta (sekitar Rp222,38 miliar). JML merupakan perusahaan tambang emas yang berbasis di Australia Barat. BUMI menilai Australia memiliki iklim investasi yang kondusif, berada di peringkat ketiga mining investment attractiveness index menurut Fraser Institute 2023. 

BUMI telah menandatangani Term Sheet pada 7 Maret 2025, diikuti Subscription Agreement pada 6 Mei 2025, untuk mengakuisisi 64,98% saham JML melalui kombinasi pembelian saham lama dan penerbitan saham baru.

Kemudian sebesar Rp 600 miliar untuk mendukung pengembangan bisnis dan memenuhi sebagian kewajiban pembayaran kepada PT Supreme Global Investment (SGI) terkait rencana akuisisi 45% saham PT Laman Mining (LM).  

PT Laman Mining merupakan perusahaan tambang bauksit yang berbasis di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Akuisisi ini  juga bagian dari strategi BUMI untuk memperkuat diversifikasi ke sektor mineral kritis, mengingat bauksit merupakan sumber utama alumina dan bahan baku aluminium yang penting bagi pengembangan industri hilir mineral, kendaraan listrik, dan infrastruktur energi terbarukan.

BUMI telah menandatangani Kesepakatan Bersama dengan SGI pada 25 September 2025 untuk pembelian saham lama senilai US$ 59,1 juta (sekitar Rp 985,79 miliar). Pembayaran akan dilakukan bertahap, yaitu US$ 20 juta (sekitar Rp 333,6 miliar) selambat-lambatnya 30 Desember 2025 sebagai uang muka dan US$ 39,1 juta (sekitar Rp 652,19 miliar) setelah SGI memenuhi persyaratan yang disepakati, paling lambat 30 Oktober 2026. 

Lalu sisanya sekitar AU$ 8,76 juta (setara Rp 97,5 miliar) diberikan kepada WFL dalam bentuk pinjaman yang akan digunakan untuk membiayai kebutuhan belanja modal.

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)

Emiten Bakrie lainya di sektor  minyak dan gas, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga  berencana menerbitkan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025 dengan total target mencapai Rp 4 triliun. 

Pada tahap pertama, perseroan akan menawarkan obligasi dengan jumlah pokok maksimal Rp 500 miliar. Investor Relations ENRG Herwin W. Hidayat menjelaskan, dana yang dihimpun akan digunakan untuk pembayaran utang dan kebutuhan modal kerja perseroan. 

“Melalui skema PUB I, ENRG memiliki ruang untuk mengumpulkan total dana hingga Rp4 triliun,” ujarnya konferensi pers di Jakarta, Senin (1/12).  

Dia menjelaskan, ada tiga seri obligasi yang akan diterbitkan ENRG, yaitu seri A dengan tenor 1 tahun dan kupon sebesar 6,75% sampai 7,25%. Seri B memiliki tenor 3 tahun dengan kupon sebesar 7,50% - 8,25% serta seri C memiliki tenor 5 tahun dengan kupon 8,50% - 9,25%. Seluruh kupon tiap seri tersebut dibayarkan secara kuartalan atau tiga bulan sekali. 

Dia juga menjelaskan, obligasi ENRG telah memperoleh peringkat idA+ (Single A Plus) dari Pefindo. Lewat dana obligasi tersebut, ENRG berencana menggunakan duntuk tiga keperluan. Pertama, sekitar 24,82% untuk pembayaran lebih awal atas seluruh pokok utang beserta bunga perseroan kepada KCS1 Pte. Ltd.  

Kedua, sekitar 21,03% akan digunakan untuk memberikan pinjaman kepada anak usaha ENRG PT Bangun Sarana Samudra Laut (BSSL) yang akan digunakan BSSL untuk membayar seluruh pokok utang beserta bunga kepada Bank Mandiri.

Ketiga, sisa dana akan digunakan ENRG untuk modal kerja dalam rangka mendukung kegiatan usaha. Hal tersebut meliputi pembayaran biaya-biaya produksi, biaya sewa fasilitas produksi, biaya bahan bakar produksi, biaya gaji, serta kewajiban kepada pemasok.  

ENRG optimistis prospek migas nasional tetap cerah, seiring proyeksi kenaikan permintaan minyak hingga 139% dan gas hingga 298% pada 2050. Perseroan pun berencana melanjutkan strategi peningkatan produksi, termasuk melalui akuisisi aset baru.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila