Investor asing mencatatkan transaksi beli bersih atau net buy di pasar saham mencapai Rp 4,03 triliun pada sepanjang pekan lalu. Meski demikian, terjadi aksi jual besar-besaran di saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencapai Rp 2,24 triliun dalam perdagangan saham yang hanya berlangsung tiga hari pada 22-24 Desember 2025.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia, BUMI menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan pada pekan lalu, baik secara nilai maupun volume. Transaksi pada saham BUMI mencapai 25,67 miliar saham atau Rp 9,74 triliun. Meski investor asing keluar, harga sahamnya tmasih naik 5,23% sepanjang pekan lalu ke level Rp 362.
Adapun sepanjang tahun ini, harga saham BUMI telah naik hampir 200%. Salah satu sentimen positif yang menopang gerak saham emiten kongsi grup Bakrie–Salim tahun ini adalah manuver baru perusahaan menguasai 64,98% saham tambang emas Jubilee Metals Limited (JML) dan 100% saham tambang tembaga Wolfram Limited.
Presiden Direktur Bumi Resources Adika Nuraga Bakrie menyampaikan, JML diperkirakan mulai melakukan kegiatan penambangan pada Juli 2026 dan menargetkan produksi sebesar 9,89 ribu ons emas pada tahun depan.
Ia mengatakan, JML menjadi aset emas berkadar tinggi yang siap berproduksi dalam waktu dekat dan memiliki potensi kenaikan signifikan. Tambang ini juga akan melengkapi platform tembaga yang diperoleh BUMI melalui akuisisi Wolfram.
“Kombinasi kedua aset ini memperkuat roadmap diversifikasi BUMI dan meningkatkan kemampuan kami dalam menghasilkan kinerja yang stabil lintas siklus komoditas,” kata Adika dalam keterangannya, dikutip Senin (22/12).
Menurut Adika, akuisisi JML juga sejalan dengan strategi diversifikasi jangka panjang BUMI yang menargetkan komposisi EBITDA terkonsolidasi berimbang 50:50 antara batu bara termal dan aset non-batu bara termal pada 2031.
Menurut dia, transformasi ini bertujuan memperkuat ketahanan perseroan, mengurangi ketergantungan pada satu siklus komoditas, serta memposisikan BUMI untuk tumbuh di tengah transisi energi global.
Adika juga menyebut, Wolfram Limited yang telah diakuisisi penuh oleh BUMI memberikan akses terhadap sumber daya tembaga yang signifikan dan memperluas kehadiran Perseroan di koridor tembaga–emas Australia. Wolfram ditargetkan kembali beroperasi pada Juni 2026 dan diperkirakan menghasilkan 9.334 ton tembaga ekuivalen pada 2026.
Investor Asing Borong Saham ANTM dan INCO
Di sisi lain, investor asing terpantau memborong saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masing-masing mencapai Rp 714,18 miliar dan Rp 224,25 miliar. Harga saham ANTM naik 5,23% ke level Rp 3.220, sedangkan INCO melesat 13,74% ke level 5.060.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,83% sepanjang pekan lalu dan ditutup di level 8.537,91. Tekanan terhadap IHSG terjadi di tengah melemahnya aktivitas perdagangan.
Rata-rata nilai transaksi harian turun 30,91% menjadi Rp 23,69 triliun, sementara volume transaksi menyusut 18,44% menjadi 38,33 miliar saham. Kapitalisasi pasar bursa juga turun 1,17% menjadi Rp 15.603 triliun.
Meski demikian, aliran dana asing masih menopang sejumlah saham berkapitalisasi besar. Berikut lima saham yang banyak diborong asing pekan lalu:
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 714,18 miliar
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp 224,25 miliar
- PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC Rp 127,22 miliar
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp 147,52 miliar
- PT Astra International Tbk (ASII) Rp 71,4 miliar