Purbaya Ramal IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini, Ditopang Pertumbuhan Ekonomi 6%

Katadata/Fauza Syahputra
Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman (kanan), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (keempat kanan), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (ketiga kana), Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu (kedua kanan), Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar (keempat kiri), Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara (kedua kiri) dan Anggota Dewan Komisioner OJK Inarno Djajadi (kiri) membuka perdagangan saham tahun 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/1/2026).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti
2/1/2026, 12.39 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimitis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menembus level 10.000. Purbaya menilai, target tersebut bukan angka yang mustahil seiring pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi mencapai 6% pada tahun ini. 

Purbaya menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat akan menjadi landasan bagi peningkatan kinerja dan keuntungan perusahaan. Menurut dia, saat ini pemerintah dan bank sentral memiliki ruang koordinasi yang lebih solid dibandingkan tahun sebelumnya. 

Dengan kondisi tersebut, Purbaya meyakini ekonomi Indonesia berpeluang tumbuh lebih cepat. Ia bahkan menilai pertumbuhan ekonomi di kisaran 6% bukan hal yang mustahil untuk dicapai tahun ini. 

“Jadi pelaku pasar siap-siap saja,” kata Purbaya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Jumat (2/1).

Selain itu, menurut dia, optimisme pasar didorong oleh perbaikan fondasi ekonomi domestik serta sinergi kebijakan pemerintah dengan Bank Indonesia. 

“Kalau saya lihat fondasi ekonominya sudah agak membaik sekarang. Tahun ini akan lebih baik lagi karena kebijakan pemerintah dengan Bank Indonesia sudah sangat sinkron,” kata Purbaya.

Purbaya sebelumnya menilai secara fundamental IHSG pada 2025 seharusnya sudah berada di level yang lebih tinggi, tetapi tertahan oleh dinamika kebijakan serta sentimen pasar. Sepanjang 2025, IHSG ditutup menguat 2,68 poin atau 0,03% ke level 8.646,94. Capaian tersebut meleset dari proyeksi Purbaya yang sebelumnya memperkirakan IHSG mampu menembus level 9.000.

“Harusnya kalau desain kebijakannya sesuai dengan desain saya, sekarang sudah 9.000. Tapi ke depan, dengan kebijakan yang semakin sinkron dan ekonomi yang semakin baik, IHSG harusnya bisa naik lebih cepat,” ujarnya.

Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa menilai penguatan IHSG di penghujung 2025 didorong oleh sentimen pemangkasan suku bunga, baik di tingkat global maupun domestik. Kondisi ini meningkatkan minat risiko investor untuk kembali masuk ke aset negara berkembang.

“Penguatan IHSG di akhir 2025 didorong oleh tren pemangkasan suku bunga global dan domestik, sehingga meningkatkan risk appetite investor untuk mulai masuk ke emerging market,” kata Reydi.

Selain itu, kinerja emiten yang relatif solid, terutama saham-saham berkapitalisasi besar, turut menopang pergerakan indeks. Faktor window dressing juga dinilai meningkatkan aktivitas transaksi menjelang akhir tahun.

Memasuki 2026, Reydi menilai sejumlah faktor masih akan menjadi perhatian utama investor, antara lain arah kebijakan suku bunga, dinamika geopolitik, serta prospek pertumbuhan ekonomi global dan domestik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri