Pemegang saham pengendali PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) tengah mengkaji sejumlah opsi strategis, termasuk menjual sebagian kepemilikan saham. Adapun keluarga Hidayat kini memegang sekitar 78% saham perusahaan obat herbal terbesar di Indonesia itu melalui PT Hotel Candi Baru. 

Mengutip pemberitaan Bloomberg, Komisaris Sido Muncul Venancia Sri Indrijati Wijono mengatakan, keluarga Hidayat selaku pengendali tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan investor baru, meski belum ada keputusan final.

“Terbuka untuk membawa investor strategis untuk membawa bisnis ini ‘ke level yang lebih tinggi,’” kata Komisaris Sido Muncul Venancia Sri Indrijati Wijono, dikutip Bloomberg, Rabu (14/1). 

Sumber yang mengetahui aksi korporasi itu menyebut keluarga pengendali saat ini berdiskusi dengan beberapa bank, dengan valuasi transaksi yang diperkirakan dapat mencapai sekitar US$ 1 miliar atau Rp 16,86 triliun dengan perhitungan kurs Rp 16.864 per dolar AS. Wijono mengatakan saat ini perseroan masih menjajaki minat dari sejumlah calon investor dan belum ada tindakan lebih lanjut.

Ia juga enggan mengungkapkan porsi saham yang berpotensi dilepas dan menegaskan tidak ada urgensi untuk melakukan transaksi dalam waktu dekat. Selain itu ia menyebut fokus utama perusahaan saat ini tetap pada peningkatan kinerja operasional.

Sido Muncul, produsen jamu yang dikenal luas melalui merek Tolak Angin, melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2013. Pada 2024, perusahaan ekuitas swasta Affinity Equity Partners telah melepas sisa kepemilikan 17,1% sahamnya kepada keluarga Hidayat dalam transaksi senilai sekitar US$ 233 juta.

Seiring dengan itu, pada perdagangan saham sesi pertama Rabu (13/1) siang, saham SIDO naik 0,93% ke Rp 545 per lembar saham dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 16,35 triliun. 

Kinerja Keuangan SIDO hingga Akhir Periode September 2025 

SIDO membukukan laba bersih sebesar Rp 818,54 miliar hingga kuartal III 2025, naik tipis 5,19% dibandingkan dengan laba bersih perseroan periode yang sama tahun 2024 Rp 778,11 miliar. 

Kenaikan laba terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan SIDO Rp 2,72 triliun dari Rp 2,62 triliun. Pundi-pundi keuangan SIDO tersebut berasal dari penjualan berbagai produknya. Penjualan produk jamu herbal dan suplemen tercatat sebesar Rp 1,60 triliun, naik 3,89% dari Rp 1,54 triliun secara tahunan atau year on year. 

Kemudian penjualan makanan dan minuman juga naik 4,3% menjadi Rp 1,02 triliun dari Rp 986,04 miliar dan penjualan segmen farmasi sebesar Rp 93,53 miliar. Seiring dengan naiknya penjualan SIDO, perseroan juga membukukan beban penjualan yang menebal menjadi Rp 1,18 triliun dari Rp 1,13 triliun secara yoy.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila