Danantara Siapkan Proyek Unggas Terintegrasi Dibangun di 5 Lokasi Mulai Februari

ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/bar
Pekerja memberi makan ayam broiler di kandang ayam sistem close house di Desa Jurang, Gebog, Jawa Tengah, Jumat (20/6/2025). Danantara berencana untuk mulai menggarap proyek hilirisasi unggas mulai Februari 2026.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
14/1/2026, 12.57 WIB

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyampaikan proyek hilirisasi integrated poultry industry atau industri unggas terintegrasi akan dibangun di lima lokasi. Proyek itu mulai digarap pada bulan depan.

CEO Danantara, Rosan Roeslani mengatakan, proyek industri unggas masuk dalam enam proyek hilirisisasi yang akan mulai dibangun pemerintah pada Februari 2026.

Selain proyek industri unggas, proyek lainnya yang akan dibangun adalah enam proyek hilirisasi bauksit aluminium di Balikpapan, bioavtur, serta refinery.

“Ada bauksit aluminium di Balikpapan, kemudian bioavtur, kemudian refinery, kemudian unggas di lima tempat,” kata Rosan di Gedung IDN, Jakarta, Rabu (14/1).

Kendati demikian, Rosan belum bersedia memerinci lokasi pembangunan industri unggas tersebut. Ia juga belum memastikan apakah proyek dimethyl ether (DME) akan ikut mulai dibangun pada Februari 2026.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Indonesia berpotensi mengantongi investasi proyek hilirisasi mencapai US$ 6 miliar atau sekitar Rp 101 triliun dalam waktu dekat.

“Kami harapkan minimal 6–11 proyek hilirisasi,” ujar Prabowo dalam peresmian Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Senin (12/1).

Prabowo menyatakan, Indonesia memiliki cadangan energi yang besar, termasuk batu bara yang menjadi salah satu terbesar di dunia. Batu bara tersebut dapat diolah menjadi gas sebagai substitusi LPG. Untuk itu, ia mendorong peningkatan kesiapan sumber daya manusia agar mampu memfasilitasi rencana investasi hilirisasi ini.

Prospek Saham Sektor Poultry

Di sisi pasar, saham sektor unggas diproyeksikan mendapat sentimen positif dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintahan Presiden Prabowo serta proyek hilirisasi unggas tersebut. Selain itu, pemerintah melalui Danantara juga berencana menggelontorkan investasi Rp 20 triliun untuk memperkuat sektor peternakan unggas nasional di 13 provinsi.

CGS International Sekuritas Indonesia menilai PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi emiten yang berpotensi terdampak positif dari kebijakan tersebut. Program MBG dinilai menjadi katalis baru bagi sektor unggas.

Analis CGS International Sekuritas, Jason Chandra, menyebutkan harga rata-rata ayam broiler pada kuartal IV 2025 naik menjadi Rp 22.800 per kg, atau tumbuh 8% secara kuartalan dan 5% secara tahunan. Kenaikan ini didorong meningkatnya permintaan dari program MBG.

Lonjakan permintaan tersebut diperkirakan mendorong JPFA mencetak rekor laba per saham. Apalagi, Badan Gizi Nasional (BGN) selaku pelaksana program telah mempercepat implementasi hingga mencakup 55 juta penerima manfaat pada Desember 2025, naik dari sekitar 20 juta pada Agustus 2025.

Pada saat yang sama, sistem pembayaran di muka oleh dapur pusat dinilai efektif mengatasi persoalan tunggakan pembayaran kepada pemasok.

“Mengingat adopsi yang solid untuk ayam broiler, kami memperkirakan laba bersih JPFA/CPIN pada FY25F mencapai Rp 3,9 triliun (+30% yoy) dan Rp 5,3 triliun (+42% yoy), masing-masing,” tulis Jason dalam riset yang dikutip pada Selasa (13/1).

Ia menilai momentum harga ayam broiler yang kuat pada kuartal I 2026 akan menopang pergerakan harga saham. Secara musiman, harga ayam cenderung tinggi selama periode puasa dan lebaran yang jatuh pada kuartal tersebut. Kondisi ini juga bertepatan dengan rilis laporan keuangan tahun buku 2025, yang diperkirakan mengungguli konsensus pasar Bloomberg.

Dari sisi biaya, Jason juga menilai harga bahan baku berpotensi turun seiring musim panen. Kementerian Pertanian mencatat harga jagung sempat melonjak ke Rp 6.000 per kg pada kuartal IV 2025, naik 13% secara kuartalan dan 32% secara tahunan akibat kendala distribusi. Setelah pemerintah menetapkan batas harga atas jagung, harga mulai stabil.

Sementara itu, harga bungkil kedelai global turun sekitar 8% dari puncaknya pada akhir November 2025. Dengan proyeksi USDA bahwa pasokan global akan melampaui permintaan, harga komoditas tersebut diperkirakan masih berpotensi melemah pada kuartal-kuartal berikutnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri