Menilik Potensi Penurunan Laba Entitas Astra (UNTR) di Tengah Aksi Buyback Saham

Agincourt Resources
Pemandangan umum fasilitas penambangan emas di Martabe, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Tambang tersebut dioperasikan oleh PT Agincourt Resources (PTAR).
23/1/2026, 06.02 WIB

Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) kena imbas usai Presiden Prabowo mencabut izin kelola hutan bagi 28 perusahaan. Hal itu lantaran presiden juga mencabut izin tambang emas Martabe yang dioperasikan oleh anak perusahaan PT Agincourt Resources. 

Indo Premier Sekuritas bahkan merekomendasikan jual saham UNTR dan target harganya turun menjadi Rp 20.500. Harga saham Astra Group itu anjlok hingga auto reject bawah (ARB)  14,93% ke Rp 27.200 pada perdagangan saham Rabu (21/1).

Analis Indo Premier Sekuritas, Reggie Parengkuan dan Ryan Winipta, menilai terdapat risiko penurunan signifikan pada laba bersih (net profit/NP) akibat kinerja segmen mineral dan emas yang berpotensi menjadi tidak menguntungkan. 

Berdasarkan panduan volume penjualan emas tambang Martabe sebesar 200 ribu ons (koz) dan asumsi harga emas saat ini sekitar US$ 4.800 per ons, Indo Premier  memperkirakan potensi penurunan laba bersih pada FY26F mencapai sekitar Rp 7 triliun. Jumlah ini setara 40–41% dari estimasi Indo Premier maupun konsensus pasar.

“Namun, kami percaya perkiraan konsensus mungkin belum sepenuhnya mencerminkan harga emas saat ini, sehingga penurunan laba mungkin tidak separah yang disebutkan oleh risiko headline,” demikian tertulis dalam risetnya, Kamis (22/1)

Di samping itu estimasi Indo Premier juga memproyeksikan penurunan laba bersih diperkirakan lebih moderat sebesar Rp 4,4 triliun atau sekitar 25%, seiring asumsi harga emas yang lebih rendah di level US$ 4.000 per ons. 

Namun apabila operasional tambang Martabe gagal dan berlanjut hingga akhir tahun, ia memperkirakan bisnis emas dan mineral berpotensi mencatatkan rugi bersih sekitar Rp 1 triliun pada tahun buku 2026. Hal ini disebabkan pendapatan dari tambang SJR yang diperkirakan hanya sekitar Rp 1,6 triliun, dengan asumsi harga emas US$ 4.800 per ons dan penjualan 20.000 ons. 

Indo Premier Sekuritas menyebut angka ini tidak cukup untuk menutup beban depresiasi tahunan yang mencapai sekitar Rp 2,2 triliun. Seiring meningkatnya risiko  itu, Indo Premier Sekuritas menurunkan peringkat saham menjadi jual dengan target harga di level Rp 20.500. 

Analis juga memangkas proyeksi laba bersih FY26F sebesar 25% menjadi Rp 12,8 triliun. Angka itu mencerminkan penurunan signifikan volume penjualan emas menjadi 20.000 ons dari sebelumnya 250.000 ons, meski asumsi harga emas dinaikkan dari US$ 4.000 per ons menjadi US$ 4.700 per ons.

“Sebagai akibatnya, kami menurunkan target harga (TP) berbasis SOTP menjadi Rp 20.500 (dari Rp27.000 sebelumnya) dan peringkat kami menjadi jual,” ucapnya.

Buyback Saham Rp 2 Triliun

Penurunan harga saham drastis di bursa efek langsung direspons manajemen. UNTR pun mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) sahamnya. Untuk tujuan tersebut, perusahaan telah menyiapkan dana jumbo.

UNTR menyatakan, jumlah saham yang akan dibeli kembali nanti tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan. Adapun jumlah saham free float setelah buyback nanti tidak akan berkurang dari 7,5% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan.

"Pelaksanaan pembelian kembali saham tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha perseroan," tulis UNTR dalam pengumuman yang dirilis dalam keterbukaan informasi, Kamis (22/1).

Jadwal pelaksanaan buyback saham tersebut akan berlangsung dari 22 Januari hingga 15 April 2026. Disebutkan bahwa UNTR telah menyiapkan dana sebesar Rp 2 triliun untuk pembelian kembali saham tersebut.

"Dalam pelaksanaan pembelian kembali saham, Perseroan akan menggunakan dana internal perseroan, dan bukan dari pinjaman atau dana hasil penawaran umum," tulis UNTR.

Dikatakan pula bahwa buyback saham ini dapat dilakukan perseroan secara bertahap maupun secara penuh melalui BEI. UNTR akan menunjuk satu perusahaan efek tujuan aksi korporasi tersebut.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila