Adu Emiten Waste to Energy OASA, MHKI, BIPI, dan IMPC, Mana Menarik Kinerjanya?
Sejumlah pemain bertema pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau waste to energy (WtE) mulai bergeliat menjelang pengumuman lelang proyek pengolahan sampah nasional oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia).
Para pemain yang saat ini bergerak di bisnis pengolahan sampah antara lain PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), dan PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI).
Pengumuman lelang proyek tersebut semula dijadwalkan pada awal 2026, namun mundur ke akhir semester pertama 2026 dan akan dilakukan secara bertahap. Proses request for proposal (RFP) juga dilaksanakan berdasarkan kesiapan daerah, tidak secara serentak. Saat ini, fokus utama proyek berada di empat wilayah, yakni Bekasi, Bogor Raya, Yogyakarta, dan Bali.
Syarat peluncuran RFP meliputi kesiapan lahan, jaminan pasokan sampah minimal 1.000 ton per hari, serta komitmen yang jelas dari pemerintah daerah. Lalu seperti apa kesiapan emiten pembangkit sampah menyambut rencana Danantara?
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA)
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) mengungkapkan total investasi untuk dua proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste-to-energy mencapai Rp 8 triliun. Kedua proyek tersebut berlokasi di Jakarta Barat dan Tangerang Selatan.
Direktur Utama Maharaksa Biru Energi, Bobby Gafur Umar, menyebut realisasi proyek akan dilakukan secara bertahap, dengan pelaksanaan berskala besar direncanakan pada 2027. Pada 2026, perseroan masih fokus pada tahap persiapan, mulai dari pembebasan lahan, perizinan, hingga studi oleh konsultan.
“Memang total investasi dari dua proyek yang sudah kami miliki, termasuk financial cost dan capital expenditure, mendekati di atas Rp 8 triliun,” ujar Bobby dalam paparan publik OASA secara virtual, dikutip Jumat (19/12).
Selain itu, perseroan telah menyiapkan sejumlah skema pembiayaan dan pengembangan proyek, salah satunya melalui kemitraan, termasuk dengan mitra asal China yang telah lolos dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) Pemilihan Mitra Kerja Sama Badan Usaha Pengembang dan Pengelola Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (BUPP PSEL) Danantara.
PLTSa Tangerang Selatan
Proyek PSEL Tangerang Selatan dikembangkan oleh Badan Usaha Pelaksana PT Indoplas Tianying Energy, yang merupakan kerja sama antara PT Indoplas Energi Hijau dengan kepemilikan 76% dan China Tianying Inc sebesar 24%.
Proyek ini berlokasi di atas lahan seluas 5,53 hektare dan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 1.100 ton per hari, terdiri dari 1.000 ton sampah baru dan 100 ton sampah lama hasil penambangan. Dari pengolahan tersebut, fasilitas ini ditargetkan menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang 25 MW, gross output sebesar 23,14 MW, dan kapasitas bersih (nett) mencapai 19,62 MW.
Listrik yang dihasilkan akan dijual dengan tarif US$ 0,1335 per kWh untuk periode tahun pertama hingga tahun ke-30. Selain itu, proyek ini juga memperoleh pendapatan dari tarif pengolahan sampah atau tipping fee sebesar Rp 529.000 per ton. Total kebutuhan investasi proyek PSEL Tangerang Selatan mencapai Rp 2,30 triliun atau setara dengan US$ 139,9 juta.
PLTSa Jakarta Barat
Proyek PSEL di Jakarta Barat akan dikembangkan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) bersama konsorsium WIKA–Indoplas di atas lahan seluas sekitar 8 hektare, termasuk akses jalan, yang berlokasi di Jalan Sultan Hamengkubuwono IX, Cakung, Jakarta Timur.
PSEL Jakarta Barat memiliki kapasitas pengolahan sampah baru hingga 2.000 ton per hari dengan kebutuhan air sekitar 600 ton per hari. Dari pengolahan sampah tersebut, fasilitas ini ditargetkan menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang sebesar 43 MW, gross output mencapai 41,30 MW, dan kapasitas bersih (nett) sebesar 35,52 MW.
Listrik yang dihasilkan akan dijual dengan tarif US$ 0,1184 per kWh untuk periode kontrak tahun pertama hingga tahun ke-30. Selain itu, proyek ini juga memperoleh pendapatan dari tipping fee sebesar Rp 595.000 per ton. Total kebutuhan investasi proyek PSEL Jakarta Barat, termasuk pengadaan lahan, diperkirakan mencapai US$ 398 juta atau setara Rp 6,57 triliun.
PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA)
SOFA sebelumnya merupakan perusahaan produsen furnitur dengan nama Boston Furniture Industries. Pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Desember 2025, perseroan mengganti lini bisnis sekaligus nama perusahaan menjadi PT Solusi Environment Asia Tbk.
Seiring perubahan tersebut, SOFA mengumumkan akan fokus mengembangkan usaha di bidang energi terbarukan dan membidik proyek pembangkit sampah waste-to-energy Danantara.
Direktur SOFA, Ezra Mohammed Dhanaguna, mengatakan perseroan juga telah mengubah nama anak usaha PT Pratama Satya Prima (PSP) menjadi PT Parivarta Energi Nusantara (PEN), seiring rencana pengembangan usaha di sektor energi terbarukan pasca-akuisisi.
Dalam aksi tersebut, pemegang saham menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor PEN, yang seluruh tambahan modalnya diambil oleh PT Sebelas Bersaudara Sinergi sebagai pemegang saham baru.
PEN selanjutnya membentuk konsorsium bersama Hunan Construction Engineering Group Co. dan Kintan Usahasama Sdn. Bhd. untuk mengikuti tender proyek waste-to-energy yang diselenggarakan PT Danantara Investment Management.
Ezra mengatakan perseroan masih menunggu hasil proses tender yang sedang berjalan. Apabila konsorsium dinyatakan sebagai pemenang, SOFA akan membentuk perusahaan baru bersama anggota konsorsium lainnya untuk melaksanakan proyek WtE sesuai ketentuan Danantara.
“Hingga saat ini belum terdapat keputusan final terkait hasil tender dimaksud maupun kepastian realisasi tindakan korporasi tersebut,” ujar Ezra dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin (26/1).
Namun, perseroan belum menjelaskan lebih lanjut mengenai lokasi proyek pembangkit sampah yang dibidik.
PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)
IMPC merupakan perusahaan produsen dan distributor bahan bangunan serta produk plastik. Pada November 2025, perseroan mengumumkan bahwa melalui anak usahanya, PT Sirkular Karya Indonesia (SKI), IMPC menggandeng PT CCEPC Indonesia untuk mengembangkan proyek PLTSa atau waste-to-energy di Bali.
CCEPC Indonesia merupakan perusahaan penyedia solusi di sektor energi bersih, pengolahan air limbah, gas buang, lumpur, serta perlindungan dan remediasi lingkungan. Dalam kerja sama ini, SKI menyediakan dukungan investasi, sementara CCEPC memberikan dukungan teknis sebagai kontraktor EPC serta operation and maintenance (O&M).
CCEPC juga menyusun studi kelayakan, melakukan kunjungan lokasi, serta menilai jenis limbah yang tersedia. Perusahaan tersebut turut memberikan dukungan eksklusif agar SKI memenangkan setiap tender yang diikuti.
Direktur Utama SKI, Sugiarto Romeli, mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah penting bagi perseroan untuk memperkuat komitmen di bidang keberlanjutan.
“Kami optimistis proyek WtE di Bali dapat menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif dan ramah lingkungan,” ujar Sugiarto, Selasa (25/11).
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI)
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), yang bergerak di bidang migas dan infrastruktur batu bara, tengah mengincar proyek PSEL Danantara.
Direktur Utama Astrindo Nusantara Infrastruktur, Raymond Anthony Gerungan, mengatakan perseroan telah menggarap proyek pembangkit sampah sejak lebih dari tiga tahun lalu. Namun, perubahan kebijakan pemerintah pusat dan daerah membuat proyek tersebut perlu mengalami penyesuaian.
Saat ini, BIPI fokus mencari pendanaan setelah studi kelayakan rampung. Perseroan memperkirakan proyek tersebut membutuhkan investasi sekitar US$ 300 juta hingga US$ 350 juta. Berdasarkan paparan publik, proyek WtE BIPI direncanakan berlokasi di Pulau Jawa, meski lokasi spesifik dan mitra strategis belum diungkapkan.
PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI)
PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) didirikan pada 23 September 2004 dan bergerak di bidang pengelolaan limbah industri. Perseroan telah mengantongi perizinan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk pengangkutan, pengumpulan, serta pemanfaatan limbah B3 dan non-B3.
Kegiatan usaha MHKI mencakup pengangkutan dan pengumpulan limbah, pengolahan limbah cair, media, padat, serta pemanfaatan limbah. Perseroan juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti waste water treatment plant (WWTP), gedung peleburan dengan sistem pengendalian emisi, serta incinerator limbah medis.
MHKI telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan besar, termasuk Pertamina, PLN, dan PLTU, melalui skema co-processing sebagai bagian dari konsep total solution–zero pollutant. Namun hingga kini, perseroan belum menyampaikan pernyataan resmi terkait partisipasi dalam proyek PSEL Danantara.
Daftar 24 Perusahaan Lolos DPT Mitra PSEL Danantara
Danantara Investment Management (Persero) mengumumkan daftar 24 perusahaan yang lolos seleksi Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) mitra BUPP PSEL.
“Banyak pihak melihat ini sebagai peluang bisnis yang menarik, sekaligus memiliki dampak sosial yang besar,” ujar Managing Director Investment Danantara Indonesia, Stefanus Ade, kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/11).
Berikut 24 daftar perusahaan yang lolos:
- Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering
- ITOCHU Corporation
- China Everbright Environment Group Limited
- Kanadevia Corporation
- PT MCC Technology Indonesia (MCC)
- China National Environmental Protection Group Co., Ltd (CECEP)
- GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd.
- Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd
- Dynagreen Environmental Protection Group Co., Ltd
- SUS Indonesia Holding Limited
- Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd
- Hunan Construction Engineering Group Co., Ltd
- CEVIA Enviro Inc.
- China Conch Venture Holding Limited
- China TianYing Inc
- PT Jinjiang Environment Indonesia
- Wangneng Environment Co., Ltd
- Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd
- Beijing China Sciences Runyu Environmental Technology Co.,Ltd. (CSET)
- Tianjin TEDA Environmental Protection Co., Ltd
- Grandblue Environment Co., Ltd
- Beijing GeoEnviron Engineering & Technology, Inc
- Wuhan Tianyuan Group Co., Ltd
- QiaoYin City Management Co., Ltd
Berikut rencana eksekusi bertahap proyek WtE periode 2025–2026:
- Oktober–Desember 2025: Seleksi DPT dan RFP
- Januari 2026: Penyampaian proposal
- Januari–Februari 2026: Evaluasi proposal
- Februari 2026: Negosiasi dan penetapan mitra
- Maret–Mei 2026: Penutupan hukum dan persiapan EPC
- Maret–Juni 2026: Groundbreaking proyek secara bertahap