IHSG Bergejolak Jelang Pengumuman MSCI, Investor Asing Kabur Rp 3,25 T Sepekan
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG bergejolak menjelang pengumuman keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan menggunakan free float. Bahkan Goldman Sachs menyebut dana asing berpotensi keluar hingga US$ 2,3 miliar atau sekitar Rp 38,54 triliun dari pasar modal RI hingga beberapa bulan ke depan.
Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI) investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 3,25 triliun pada periode 19–23 Januari 2026. Torehan tersebut berbalik arah dari catatan transaksi investor asing pada pekan sebelumnya yang tercatat net buy sebesar Rp 4,2 triliun.
Saham-saham perbankan hingga konglomerat terpantau anjlok dalam beberapa hari terkahir. Adapun IHSG ditutup naik 0,27% ke 8.975 pada perdagangan hari ini, Senin (26/1) Namun pada perdagangan intraday, IHSG sempat anjlok hingga menyentuh 8.927 atau turun 0,27% pukul 14:14 WIB, kian jauh dari level 9.000.
Melihat hal itu CEO OCBC Sekuritas Betty Goenawan mengatakan metodologi baru MSCI disebut berpotensi sedikit melemah pasar. Akan tetapi ia menilai pasar modal RI masih ada peluang untuk Indonesia karena dibanding dengan negara ASEAN, pasar modal RI masih lumayan positif.
“MSCI ini kan minggu depan ya, saat ini kalau dari rumors yang berada kan katanya ini kemungkinan akan ada beberapa nama yang drop,” ucap Betty kepada wartawan ketika ditemui di Gedung BEI, Senin (26/1).
Meski begitu ia menilai hingga saat ini OCBC Sekuritas belum dapat list resmi dari MSCI terkait hal itu. “Kita juga salah satu sekuritas yang partisipasi untuk rebalancing,” ucap Betty,
Lebih jauh Betty optimistis IHSG berpeluang menembus level 10.000 pada 2026, meski saat ini masih bergerak di kisaran 8.000–9.000. Ia menilai pasar tetap memiliki kekuatan fundamental untuk melanjutkan penguatan hingga menembus level itu.
Menurutnya, sektor perbankan berpotensi menjadi salah satu pendorong utama. Betty memperkirakan sentimen pasar akan berangsur membaik setelah keputusan MSCI, sementara secara fundamental kinerja perbankan dinilai tetap solid dan prospeknya masih positif ke depannya.
“Terus kemudian off course tambang, tambang mineral emas, itu juga tetap akan strong di sana, consumer product masih ada opportunity juga,” tambahnya.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy mengatakan, sebenarnya MSCI telah membuka public consultation pada November–Desember tahun lalu. Irvan menyebut MSCI akan menyampaikan keputusan final pada Jumat (30/1).
Menurut Irvan, MSCI menggodok perubahan metodologi perhitungan free float berdasarkan masukan dari para kliennya. Sejalan dengan proses tersebut, BEI telah berkoordinasi dengan MSCI sejak laporan hasil public consultation dirilis.
“Jadi kami menyampaikan metode ini pertama harus diaplikasikan setara ke seluruh negara. Kedua, metode yang digunakan ini menurut kami tidak tepat,” ucap Irvan kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (26/1).
Tak hanya itu, Irvan juga mengatakan MSCI memiliki metode lain yang bisa digunakan dalam perhitungan free float. Terkait keluarnya dana asing, ia meminta investor untuk menunggu keputusan MSCI 30 Januari. Irvan juga menyebut pasar modal Indonesia saat ini masih menarik.
MSCI Jajaki Penggunaan Data KSEI dalam Perhitungan Free Float
Sebelumnya Indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjajaki masukan dari para pelaku pasar terkait rencana pemanfaatan Monthly Holding Composition Report yang diterbitkan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Mereka tengah mempertimbangkan untuk menggunakannya sebagai referensi tambahan dalam perhitungan free float saham emiten Indonesia. Free float adalah porsi saham yang dimiliki oleh publik atau masyarakat, tidak termasuk saham yang dikuasai oleh pemegang saham pengendali, pemegang saham mayoritas, komisaris, direksi maupun karyawan perusahaan.
Adapun selama ini, emiten di Indonesia hanya diwajibkan melaporkan kepemilikan saham ≥5% kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, data KSEI mencakup kepemilikan di bawah 5% serta memberikan klasifikasi jenis pemegang saham.
Hal itu nantinya dapat memberikan gambaran yang lebih detail dan akurat mengenai struktur kepemilikan saham pada suatu emiten. MSCI mengusulkan agar estimasi free float ditetapkan berdasarkan nilai terendah antara dua perhitungan berikut:
- Free float yang dihitung menggunakan data kepemilikan yang dilaporkan oleh emiten dalam keterbukaan informasi, laporan, maupun siaran pers, sesuai metodologi MSCI.
- Free float yang diestimasi menggunakan data KSEI, dengan mengklasifikasikan saham script (yang tidak tercatat di data KSEI) serta kepemilikan korporasi (lokal dan asing) dan kategori others (lokal dan asing) sebagai non–free float.
Sebagai alternatif, MSCI juga mempertimbangkan pendekatan lain, yakni menghitung estimasi free float berdasarkan data KSEI dengan mengklasifikasikan saham script dan kepemilikan korporasi sebagai non–free float.
Namun tanpa memasukkan kategori others dalam perhitungan tersebut. MSCI akan membuka periode konsultasi hingga 31 Desember 2025, dan hasilnya dijadwalkan diumumkan sebelum 30 Januari 2026. Apabila proposal ini disetujui, perubahan metodologi tersebut akan mulai diterapkan pada review indeks Mei 2026 mendatang.