Dilema MSCI: ADMR Lebih Meyakinkan untuk Masuk Indeks daripada BUMI dan PTRO?
Teka-teki mengenai emiten baru yang bakal mengisi kursi indeks bergengsi Morgan Stanley Capital International (MSCI) kian memanas menjelang pengumuman akhir Januari ini. Di tengah fluktuasi pasar yang cukup tajam, pergerakan harga saham kandidat pengisi indeks tersebut menjadi salah satu indikator bagi para pelaku pasar dalam mengukur probabilitas keberhasilan mereka.
Founder WH Project, William Hartanto, memberikan analisisnya terkait prospek tiga emiten yang kerap digadang-gadang sebagai calon kuat penghuni baru indeks MSCI. Ketiga emiten itu adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (PTRO), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Menurut William, tren harga saham menjelang pengumuman MSCI biasanya mencerminkan keyakinan pasar. Jika melihat kinerja saham belakangan ini, dia menilai ADMR terlihat lebih meyakinkan.
"Secara historis, saham-saham yang hampir pasti masuk ke dalam indeks MSCI cenderung mengalami penguatan harga sebagai bentuk antisipasi. Sebaliknya, jika harga justru bergerak ke arah berlawanan, maka ada potensi emiten tersebut batal masuk," kata William kepada Katadata, Selasa (27/1).
Koreksi Tajam PTRO dan BUMI
Pernyataan William tersebut sejalan dengan kondisi teknikal PTRO yang mengalami tekanan hebat dalam sepekan terakhir. Saham milik konglomerat Prajogo Pangestu itu sempat mencatatkan dua kali auto rejection bawah (ARB) beruntun pada pekan lalu, dan kembali merosot lebih dari 9% pada perdagangan Senin (26/1) kemarin.
Berdasarkan data perdagangan sepanjang Januari 2026, PTRO memulai tahun ini di level Rp 10.925, namun terpangkas signifikan hingga sempat menyentuh area Rp 8.300-an pada perdagangan kemarin akibat aksi jual masif. Meskipun pada perdagangan pagi ini PTRO kembali rebound sempat mencapai Rp 8.950 atau naik 7,51%, secara year to date (ytd) saham ini sudah terkoreksi 18% hingga 20%.
Sementara itu, BUMI juga menunjukkan tren serupa. Setelah membuka tahun ini di level Rp 366 dan sempat bertengger di atas Rp 460 selama beberapa hari, saham ini cenderung bergerak sideways dengan kecenderungan melemah (downtrend). Pagi ini, harga saham Grup Bakrie-Salim itu bergerak fluktuatif di rentang Rp 328 dan Rp 340.
Kondisi berbeda ditunjukkan oleh ADMR. Saham anak usaha Grup Adaro ini relatif lebih stabil dan konsisten menjaga tren penguatannya sepanjang Januari 2026. Mengawali tahun di posisi Rp1.560, ADMR perlahan mendaki ke level Rp2.200-an dengan volume perdagangan yang terjaga.
Secara year to date, harga saham ini sudah meroket lebih dari 42%. Stabilitas inilah yang dinilai William sebagai sinyal lebih positif bagi ADMR dibandingkan volatilitas ekstrem yang dialami PTRO dan BUMI.
Sementara pengamat pasar modal Michael Yeoh sebelumnya memberikan catatan berbeda untuk BUMI. Dia menilai peluang saham ini masuk indeks MSCI justru masih relatif aman.
"Hal ini dikarenakan posisi harga saham BUMI yang masih berada jauh di atas batas ambang batas (threshold) yang ditentukan, yakni di level Rp 308," kata Michael.
Pergerakan harga saham bisa saja menjadi sinyal terkait potensi emiten-emiten tersebut untuk masuk ke dalam perhitungan MSCI terbaru. Kendati demikian, para investor disarankan untuk tetap waspada dan tidak hanya terpaku pada narasi masuknya indeks.